“Merchantilism in the Early American Colonies”

Merchantilism in the Early American Colonies

Tori Nuariza Sutanto1

Introduction

Merchantilism is the political and economic strategic used by the European nations states as a doctrine in the early capitalist era around 1500 to 1850. Merchantilism is economic nationalism for the purpose of building a wealthy and powerful state2. Adam Smith tells merchantile system as the system of political economy that sought to enrich the country by restraining imports and encouraging exports. The goal of this policies was to increase the wealth and power of the mother country by creating a balance between trade and domestic manufacturing. This paper aims to describe how the merchantile system shaped American early colonies in relation with the mother country Great Britain.

Politics of Merchantilism

   Concerning to the term of merchantilism, it was the theory of trade espoused by the major European powers. The theory that said for a nation should export more than it imported. Merchantilism was a reaction against the economic problems of earlier times when states were too weak to guide their economies3. In the modern age, Holland, France, Spain, Britain became the powerful nations. Those nations were frequently fighting in war. As a consequence, money was needed to support their expansion to the other land in terms of military (armies and navies). So, the merchantilism concept developed through the necessity of wealth. To grow richer, those nations needed the other nations to be exploited. In this sense, Great Britain needed American colonies with the land to provide them raw materials and Britain provided their colonies with goods by selling to them.

Mercantilism as a historical period has been associated with the rise of a particular form of European capitalism often referred to as merchant capitalism. Mercantilism was also a doctrine advanced by various economic writers of the period, who tended to call for a powerful alliance between merchants and the monarchial system4. Continue reading ““Merchantilism in the Early American Colonies””

Iklan

“Pemuda dan KeIndonesiaan : Tantangan Integrasi Nasional dan Nilai Kultural Bangsa Indonesia Masa Kini”

BAB I

PENDAHULUAN

         Indonesia adalah sebuah masyarakat negara, yang secara antropologis, terdiri atas lebih dari 500 suku bangsa (ethnic group) yang memiliki ciri-ciri bahasa dan kultur tersendiri. Bahkan, lebih unik lagi, Setiap suku-bangsa di Indonesia dapat dikatakan mempunyai satu daerah asal, pengalaman sejarah, dan nenek moyang tersendiri. (Amri Marzali, 2005)

       Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia, terdiri atas 19.000 pulau yang teruntai sepanjang khatulistiwa, dengan jumlah penduduk sekitar 240 juta jiwa. Di media Internasional, seringkali Indonesia dikenal dengan berita kekerasan politik, konflik horizontal di masyarakat dan keterkaitannya dengan terrorisme internasional. Vickers dalam bukunya sejarah Indonesia modern menyebutkan bahwa, ‘pengalaman sejarah Indonesia bisa menjelaskan keragamannya, dan mengapa ia menjadi sebuah negeri yang penuh paradoks’1. lebih lanjut Vickers menjelaskan bahwa sebagai sebuah bangsa yang baru, Indonesia berjuang untuk menyeimbangkan berbagai kepentingan kelompok dan mempertahankan kepaduan dalam menghadapi menghadapi tekanan dalam keragaman dirinya maupun dari ketegangan-ketegangan akibat politik internasional. Kondisi Indonesia hari ini adalah buah dari sekaligus dua hal : perjuangan dan penggunaan kekuatan demi tujuan-tujuan politik maupun perwujudan identitas nasional2. Tragedi dalam sejarah Indonesia terletak pada eksploitasi yang berkelanjutan, nyawa yang dikorbankan, dan kesempatan yang terlewatkan begitu saja. Sementara ada ironi dalam dalam sejarah indonesia yang terletak pada aspek-aspek kepalsuan dari sebuah negeri yang tercerai berai, tetapi dicampur dengan optimisme yang tak pernah padam yang memungkinkan orang –orang Indonesia memupuk rasa kebersamaan tujuan dari eksistensi mereka di sebuah negara yang diciptakan oleh kekuatan asing3. Ungkapan Vickers patut menjadi renungan dan pembelajaran bangsa ini. Continue reading ““Pemuda dan KeIndonesiaan : Tantangan Integrasi Nasional dan Nilai Kultural Bangsa Indonesia Masa Kini””

The Construction of U.S War Against Terrorism Through Documentary Work of Inside The Pentagon

“The Construction of U.S  War Against Terrorism Through Documentary Work of Inside The Pentagon : Developing Optimism Toward Public after 9/11 Attacked”

Tori Nuariza Sutanto1

Gambar

The History of U.S military in the battlefields led the United States of America as the super power nation. As a consequence, United States of America tends to put the stability of their nation as the first priority. The security of the country  has to be under control.  The Historical background of some wars that involved by the U.S military creates such a principal which they always have to step ahead in military defense. Finding the new inventions and new technologies are the best way for United States of America to  keep their existence as the most powerful country. To prove their existence, the idea of establishing a military base as the supporting system and the headquarter comes out. It provokes the United States of America to build the Pentagon.

Creating a military base, such as Pentagon as the supporting system of U.S military in the battlefields, was the vital part for America to conquers the battlefields. It is designed as the Headquarters of the United States Department of Defense where the leaders could have  meetings and conferences, discussing systematic strategies, creating inventions in weapon technology, setting the battle in the media, and etc. As a symbol of the United States Military, the Pentagon designed to cover around 40.000 workers, with its complexity in terms of facilities where it is built based on their necessitty to support any kind of conditions.

  War is integral component or main component for spreading the new vision of United States foreign policies2. Thus, It related to one of ideolog groups called neo-conservatives. They emerged as a group that dominantly had influence in the U.S government. The root of neo-conservatives ideas in the U.S Policy can be seen in the nineties. Continue reading “The Construction of U.S War Against Terrorism Through Documentary Work of Inside The Pentagon”

The Urgency of U.S Strong Military Bases


Tori Nuariza Sutanto1

Gambar

      Introduction

The Triumph of America as a nation-state with the allies block in the World War II gradually leads a great change politically, economically, culturally, and socially to the United States of America. The History of World War I, World War II, Cold War, Vietnam War, Korean War, Gulf War, and some conflicts dynamically influences the rapid growth of United States of America in terms of bargaining position geo-politically throughout the world. The emerging of the U.S toward Great Depression under the presidency of Franklin Delano Roosevelt with his New Deal proposal changes the situation which upgrades the American support to the government, and solves some big problems in the U.S in terms of unemployment, agriculture, banking, industry, and etc. United States of America merely proves the world as a strong country that can overcome their problems. The dynamic situation in the Great Depression and the first beginning of World War II become the starting point of the U.S to be the super power nation. Continue reading “The Urgency of U.S Strong Military Bases”

“Merajut Kembali KeIndonesiaan Kita”

Merajut Kembali Keindonesiaan kita

            GambarKondisi bangsa akhir-akhir ini semakin memprihatinkan dan membuat rakyat semakin apatis dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Rakyat sepertinya hanya bisa pasrah dan mencoba tegar menghadapi kondisi dimana pemerintah tidak hadir  dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Akhir juni lalu, Fund For Peace (FFP), lembaga riset yang berpusat di Washington DC, Amerika Serikat mengeluarkan publikasi Indeks Negara Gagal atau Failed State Index. Indonesia menempati peringkat ke-63 dari 178 negara di seluruh dunia. Itu artinya, Indonesia masuk dalam kategori negara-negara yang dalam bahaya menuju negara gagal. Berbagai realitas sosial, ekonomi, dan politik  yang dirasakan oleh rakyat di masa kini mau tak mau memperkuat riset yang dilakukan FFP. Isu-isu seperti pembangunan tidak merata, legitimasi negara, penegakan hukum yang tebang-pilih, elit politik yang korup, konflik horizontal, kesenjangan yang semakin tinggi antara si kaya dan miskin serta  banyaknya aksi demonstrasi dan kekerasan terhadap kelompok minoritas sampai dengan masalah lingkungan menghiasi wajah media-media di Indonesia baik cetak maupun online. Continue reading ““Merajut Kembali KeIndonesiaan Kita””

“Refleksi Sejarah Gerakan Mahasiswa dari Masa Ke Masa”

“Refleksi Sejarah Gerakan Mahasiswa dari Masa Ke Masa” 1
Tori Nuariza Sutanto

Dalam masa sekarang kita mendapati masa lalu, dalam masa sekarang juga kita akan mendapati apa yang akan datang, sejarah memberi pelajaran kepada kita. _Sindhunata_

Mahasiswa berasal dari kata ‘maha’ yang berarti besar, agung dan ‘siswa’ yang berarti orang yang sedang belajar di institusi, dalam hal ini pendidikan tinggi. Dari definisi tersebut, mahasiswa memikul tanggung jawab besar dalam melaksanakan fungsinya sebagai kaum muda terdidik yang harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan masa depan. Dengan sifat dan watak yang kritis, ketajaman intelektual, independensi, serta energi yang besar, kelompok mahasiswa selalu identik dengan perubahan sosial di masyarakat. Oleh karena itu, sejarah mencatat dimana kaum pemuda khususnya mahasiswa memegang peranan penting dalam tonggak perubahan di negeri ini. Sebagai anak bangsa yang secara sosial mendapat kesempatan lebih dibandingkan dengan saudaranya yang lain, mahasiswa kemudian menjadi penggerak utama dalam banyak dimensi perubahan sosial politik di tanah air pada masanya. Aktivitas mahasiswa yang merambah wilayah yang lebih luas dari sekedar belajar di perguruan tinggi inilah yang kemudian populer dengan sebutan “gerakan mahasiswa”2.

Dalam membaca sejarah pergerakan mahasiswa perlu diletakkan secara kontekstual sesuai dengan kondisi zaman dimana dinamika sosial politik menjadi acuan dasar membedahnya. Gerakan mahasiswa identik dengan aksi penyikapan ataupun penolakan terhadap kebijakan rezim, mobilisasi massa, boikot serta penyikapan terhadap isu-isu lokal, nasional, maupun internasional. Berbagai metode dilakukan baik yang berupa aksi damai, audiensi, diskusi, represif, penyadaran, turun ke jalan, maupun penyebaran release atau pamflet ke masyarakat, dan lainnya. Adanya gerakan mahasiswa dengan perannya yang signifikan dalam perubahan secara langsung akan membongkar mitos lama di masyarakat, bahwa mahasiswa selama ini dianggap sebagai bagian dari civitas akademika yang berada di menara gading, jauh dari persoalan yang dihadapi masyarakatnya3.

Continue reading ““Refleksi Sejarah Gerakan Mahasiswa dari Masa Ke Masa””