“FENOMENA KOMUNITAS HIJABERS DALAM TINJAUAN MASYARAKAT POSTMODERN”

Gambar

http://mimialysa.blogspot.com/2010/12/beauty-in-faith-hijabers-community.html

“Fenomena Komunitas Hijabers Dalam Tinjauan Masyarakat Postmodern”*

 Tori Nuariza**

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.  Latar Belakang

Manusia selalu mengalami perubahan-perubahan selama hidup baik secara individu maupun secara kolektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Perubahan- perubahan (Soekanto, 2006:259) itu dapat berupa perubahan dalam hal nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Dalam hal ini, perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap-sikap, pola-pola perilaku diantara kelompok masyarakat disebut sebagai perubahan sosial.

Perkembangan zaman yang begitu cepat dari masyarakat agrikultur menuju masyarakat industri hingga menjadi masyarakat informasi memang tak dapat dihindari, seiring dengan itu terjadi perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat. Dalam konteks ini, perubahan  masyarakat agraris, dimana sumber kekuasaan berupa tanah dan sumber daya alam, menjadi masyarakat industri dimana  penguasaan terhadap alat-alat produksi  menjadi  alat kekuasaan dan pada akhirnya masa kini yang disebut sebagai era informasi. Sebagai konsekuensi, informasi menjadi sebuah power, masyarakat pun menjadi konsumen informasi. gelombang informasi yang didukung dengan revolusi teknologi  meluber begitu pesat hingga terjadi overload informasi. Perubahan sosial menjadi sebuah keniscayaan, siap ataupun tidak masyarakat sebagai objek informasi mengalami perubahan baik pola perilaku, sistem sosial, nilai-nilai, termasuk world-view, cara pandang, dan ideologi.

Terminologi seperti information revolution, globalization, postmodern society mulai menjadi wacana-wacana intelektual yang menarik pasca penemuan komputer dan  teknologi digital ini. Hubungan sosial ataupun interaksi di dalam masyarakat berubah total dari sebelumnya. Dengan adanya perkembangan new media, baru-baru ini interaksi sosial berpindah dari tempat-tempat yang real menjadi tempat-tempat yang semu atau maya. Dampak Globalisasi yang melukiskan keterkaitan dan ketergantungan antar manusia di dunia melalui perdagangan, investasi, budaya populer, dan bentuk interaksi lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi relatif. Hal ini digambarkan Anthony Giddens, bahwasanya mayoritas umat manusia menyadari sebenarnya setiap individu turut ambil bagian dalam dunia yang harus berubah tanpa terkendali, yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan terhadap hal yang sama, perubahan, ketidakpastian dan realita sosial yang mungkin terjadi. Mcluhan, ahli komunikasi, membahasakan dunia menjadi sebuah global village, sebuah desa global. Dimana semua masyarakat manusia dibuat untuk menjadi sebuah masyarakat global. Namun, desa identik dengan tradisi yang kuat padahal era global ini membuat manusia tidak memiliki tradisi mapan, melainkan menjadi village massif yang telah kehilangan kohesi sosial dan ideologi. Dalam konteks ini, Jean Baudrillard (Strinati, 2010 : 14) melukiskan situasi ini sebagai implosion, dengan perkembangan media baik media massa, elektronik, dan new media, semuanya telah menyatukan manusia kemudian membiarkannya meledak kedalam batas-batas geografis bangsa, ideologi, kelas, yang cair dan luluh begitu saja. Masyarakat menjadi penuh ketidakpastian tanpa identitas yang jelas dan kuat. Masyarakat ini dapat disebut sebagai masyarakat postmodern, masyarakat yang terlahir pasca modernisasi, masyarakat post-industrial society. Masyarakat yang tidak lagi mencintai reasoning, masyarakat yang meyakini kebenaran itu tidaklah mutlak namun kebenaran dapat diciptakan secara personal dan relatif, masyarakat yang skeptis, masyarakat yang melahirkan spiritualitas baru, masyarakat yang unik karena erat kaitannya dengan media.

Seperti yang telah dijelaskan penulis, perkembangan masyarakat post-industrial, dengan dukungan teknologi dan revolusi informasi menjadikan hubungan antara manusia dan media menjadi kompleks. Media tidak lagi hanya mengungkap gagasan dan perasaan manusia, namun juga mengatur gagasan dan menata perasaan manusia. Media membentuk masyarakat, mengontruksi rasa dan persepsi masyarakat serta menetukan apa yang dikonsumsi masyarakat.

Masyarakat postmodern juga telah menggeser konsensus hubungan dan interaksi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks ini dikaitkan dengan orientasi politik,  gerakan sosial di masyarakat modern berbasis atas kelas dan ideology, sementara terjadi new social movement ala masyarakat postmodern dimana gerakan mereka berbasis atas  keberagaman, identitas dan pilihan seperti gerakan feminisme, environmentalism, gay rights, animal rights, civil rights dll. Manusia postomodern lebih menyukai gerakan berbasis komunitas untuk memperjuangkan kepentingannya. Relativitas postmodern meyakini kebenaran dapat diciptakan dan tidak mutlak sehingga realitas sosial dibentuk oleh kumpulan komunitas yang berbeda-beda.  

Manusia membentuk sebuah kelompok, gank, komunitas  agar tidak merasa sendirian.Sri Wiyarti (2007)menyatakan konsep Zoon Politicon, pada dasarnya  manusia adalah mahluk yang ingin selalu berinteraksi dan berkumpul sesama manusia. Ini merupakan sebuah kebutuhan dasar manusia yakni  berkumpul dan bermasyarakat. Selain itu, bergaul dalam sebuah kelompok atau komunitas mempermudah manusia mengenal jati diri dan memperkuat identitas dirinya di dalam masyarakat.

Kecenderungan anggota komunitas untuk membentuk pribadi secara kolektif agar menguatkan kepercayaan dirinya sehingga mereka berhubungan dalam sebuah kelompok yang terbatas. Atas dasar memiliki interest yang sama, hobi yang sama, perasaan dan cita-cita yang sama, nasib yang sama meraka saling berhubungan dan memiliki ketergantungan. Hal ini yang membuat mereka memiliki rasa kepemilikan (sense of belonging) satu sama lain yang begitu kuat.

Melihat konteks Indonesia, komunitas lebih banyak hadir sebagai cerminan diri serta  wadah aktuliasasi maupun hasrat diri. Lahirnya komunitas dengan basis budaya, kesukuan, etnik, hingga komunitas hobi, gaya hidup, serta komunitas fashion menjadi marak. Kecenderungan pergeseran dalam tinjauan masyarakat postmodern salah satunya adalah gerakan berbasis komunitas yang sesuai dengan identitas dan pilihan pribadi. Kelompok mana yang membuat mereka nyaman dan memberikan kepuasan psikologis yang  akan mereka ikuti. Dalam hal ini, menghubungkan tinjauan postmodern dan perubahan masyarakat penulis memfokuskan pada komunitas yang berbasis interest dan life style. Berkembangnya komunitas K-Pop, fashion bloggers, komunitas anime, sampai dengan komunitas Hiijabers menjadi tanda karakteristik manusia postmodern. Dalam konteks Indonesia tidak semua daerah telah masuk dalam karakteristik masyarakat ini, bahkan masih banyak wilayah Indonesia yang masih dalam kategori masyarakat agrikultur. Sebagian kota-kota besar yang metropolis serta cepat sekali perkembangannya masuk dalam kategori masyarakat postmodern ini sehingga komunitas berbasis interest dan lifestyle lahir, berkembang dan menjadi besar disana.

Baru-baru ini komunitas yang selalu hangat dan menjadi sorotan publik adalah komunitas jilbab kontemporer atau sering disebut “Hijabers”. Dalam beberapa tahun ini komunitas ini berkembang dan menjadi besar serta membuat sebuah tren baru dalam berkerudung bagi muslimah di Indonesia. Penulis melihat ini sebagai sebuah fenomena yang pantas dan patut untuk dibahas.

  1. B.  Rumusan Masalah

Dari penjelasan latar belakang masalah yang penulis uraikan diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana esensi jilbab menurut pandangan Islam ?
  2. Bagaimana gaya hidup dan identitas anggota komunitas hijabers  di tengah masyarakat?
  3. Bagaimana perkembangan komunitas hijabers dalam tinjaun masyarakat postmodern, hubungannya dengan budaya populer, kultur konsumtif dan spiritualitas postmodern?

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.  Esensi Jilbab dalam pandangan Islam

Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (Q.S An-Nur :31)

Al Quran sebagai pedoman hidup setiap umat muslim dalam berkehidupan telah jelas dalam menggambarkan tuntunan bagi kaum muslimah khususnya dalam hal ini perihal perintah berjilbab. Surat An-Nur ayat 31, menjelasakan tentang larangan menampakkan perhiasaan atau aurat wanita kecuali terhadap beberapa orang yang telah disebutkan dalam surat tersebut, selain itu bahwasanya diperintahkan untuk menutupkan hijab sampai kedadanya dan seterusnya.

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya[1232] ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Al-Ahzab :59)

Dalam Al Quran surat Al Ahzab ayat 59 telah dijelaskan pula keharusan wanita mengenakan jilbab apabila berada di luar rumah. Dalam hal ini, jilbab adalah  sejenis baju kurung yang lapang yang dapat menutup kepala, muka dan dada.

Secara tekstual, jelas dalam tersebut pemakaian jilbab bagi wanita muslimah adalah agar mereka mudah dikenal sebagai identitas dan agar mereka tidak diganggu. Sehingga, jilbab lebih dari sebuah baju, pakaian kurung, mode atau style atau yang lain karena esensinya adalah menjalankan perintah Allah bagi orang-orang yang beriman khususnya kaum muslimah atau wanita muslim.

Secara sosiologis, jilbab terkait dengan dimensi sosial. Dalam tuntunan agama Islam jilbab merupakan kewajiban bagi para wanita muslim termaktub dalam Al-Quran surat An-Nur ayat 31 maupun Al Ahzab ayat 59 yang telah penulis jelaskan diatas. Namun saat ini, jilbab dalam realitasnya merupakan gejala sosial. Ibarat dua sisi mata koin memiliki nilai positif ataupun negatif dalam realitas yang dibangun masyarakat. Di satu sisi jilbab dipahami sebagai perintah agama dan sebuah kewajiban sementara di sisi lain ada yang menganggap jilbab adalah sebuah doktrin paksaan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kemodernan, jilbab sebagai fashion, dan sebagainya.

Ashgar Ali Engineer (2005) dalam bukunya The Qur‟an Women and Modern Society Second Editionmengenai jilbab bahwa pada dasarnya memang menuai kontroversi. Orang-orang diluar islam terutama orang-orang barat beranggapan bahwa penggunaan jilbab adalah hal yang aneh, praktik zaman dulu yang kejam karena dianggap mengekang wanita dan sudah tidak bersesuaian dengan zaman yang modern. Meski demikian, para Ulama, orang yang menguasai ilmu-ilmu agama (Dien) khususnya ajaran Agama Islam, menjelaskan bahwa jilbab bagi perempuan adalah sebuah keharusan dan merupakan kewajiban. Ashgar Ali Engineer memeberikan contoh kasus di negara Kerajaan Saudi Arabia  bahwa perempuan yang keluar dari rumah dengan tidak menggunakan jilbab akan dikenakan hukuman sesuai yang berlaku di tanah Saudi Arabia. Halini ditetapkan untuk menghindarkan perempuan dari kejahatan atau gangguan diluar rumah. Oleh karena itu, perempuan juga diwajibkan hanya boleh keluar dengan mahram-nya (laki-laki atau perempuan yang memiliki hubungan darah).

 

There has been a great deal of controversy about veil in Islam. While some believers consider it as the commandment of Allah given in the holy Qur‟an, others, Muslims as well as non-muslims –specially the Westerners – consider it a rediculoud, if not a barbaric, practice. Many Muslims also argue that whatever the justification of purdah (ie, the veil) in the past, it has no relevance in the modern age at all. The orthodox Muslims, especially the „Ulama, on the other hand, consider the veil for women as absolutely necessary and enforce it with all the rigidity they can. Thus we see in countries like Saudi Arabia that is severely punishable for a woman if she goes unveiled. In that country she is not permitted to go out of the house alone. Some near male relative – mahram, ie, one with whom marriageis prohibited – must accompanied, she might be teased or violated. In Irantoo, she is required to wear a chador, ie, a long, loose garment to cover the head and slung across the upper part of the body, or at least a scarf with which to cover the head. (Asghar Ali Engineer, 2005)

 

Sementara ada sebagian kalangan yang menganggap jilbab hanyalah bagian dari kebudayaan, produk budaya Arab sehingga di selain tanah Arab tidak perlu mengenakan jilbab. Agama  dari perspektif sosiolgis adalah sebuah sistem sosial, yang dibuat oleh anggota-anggota sistem sosial tersebut. Sementara Kebudayaan merupakan pola perilaku yang dilakukan secara terus-menerus sehingga menjadi kebiasaan dan akhirnya disebut tradisi. Dengan kontruksi seperti inilah sebagian kalangan menganggap jilbab itu hanyalah produk budaya Arab yang dibiasakan oleh warga di tanah Arab.

Perdebatan dalam konteks ini merupakan buah pemikiran yang berkembang saat ini. Interpretasi yang beraneka ragam dari suatu ajaran Agama merupakan suatu kewajaran. Proses beragama setiap individu pun beragam dan mempunyai pola-pola tertentu secara kasar bahkan bisa disebut style nya masing-masing. Klaim-klaim kebenaran pun muncul akibat proses perkembangan pemikiran dan sebagai defence-mechanism meraka. Mengutip apa yang dikatakan Prof. Azyumardi Azra, perkembangan umat Islam khususnya di Indonesia semakin beragam. Globalisasi  (Azyumardi Azra, 1999:192) pemikiran Islam yang memasuki Indonesia semakin beragam sehingga terjadi klaim-klaim kebenaran dari pihak tertentu.

Penulis dalam hal ini tidak akan membawa ke dalam ranah aliran pemikiran, namun lebih menekankan pada esensi penggunaan jilbab bagi wanita muslim sebagai manifestasi ketaatan seorang wanita muslim terhadap tuntunan ajaran agamanya. Pergeseran nilai akibat perkembangan zaman menjadi sebuah keniscayaan. Berkembangnya pola fikir, cara pandang dan perspektif baru merupakan hal yang wajar namun hal ini perlu dikembalikan ini ke dalam esensi jilbab menurut Al Quran sebagai pedoman hidup seorang penganut agama Islam.  Penulis melihat pergeseran nilai pemakaian jilbab masa kini telah bergeser dari sebuah manifestasi perilaku menjalankan tuntunan agama menuju mode atau fashion. Dalam kaitannya dengan budaya populer dan industri budaya, penulis menilai terjadi sebuah pergeseran (shifting) dalam pemberlakuan nilai-nilai agama Islam masa kini terutama dalam perkembangan komunitas Hijabers. Hubungan antara masyarakat informasi, media massa, industri budaya, serta perilaku masyarakat postmodern dan perilaku konsumeristik akan coba penulis uraikan sehingga memperkuat tesis pergeseran nilai dan esensi penggunaan jilbab pada masa kini didukung faktor lain terutama dalam hal ini spiritualitas masyarakat postmodern serta pengaruh  budaya populer yang begitu hegemonik.  Penulis akan menguraikan dalam pembahasan selanjutnya.

  1. B.       Komunitas Hijabers : Perkembangan, Gaya Hidup dan Identitas Sosial

Komunitas Hijabers adalah komunitas jilbab kontemporer yang terdiri atas sekumpulan orang yang ingin terlihat sama dalam bergaya dan berbusana. Komunitas ini menginisiasi dan mengembangkan tren baru berkerudung bagi wanita  muslim Indonesia. Perkembangan komunitas ini begitu cepat dan menjamur di beberapa kota besar di Indonesia. Seorang muslimah yang bernama Dian pelangi menjadi ikon seorang hijabers. Seorang anggota komunitas hijabers membangun identitas baru seorang wanita muslim yang mengenakan jilbab namun tetap dapat tampil cantik, stylish, chic, modis serta masih sesuai dengan kewajiban menutup aurat bagi wanita muslim. Komunitas ini lahir dan berkembang karena ditopang oleh anggota-anggota yang memiliki interest yang sama dan identitas yang mereka yakini. Selain itu, bergaul dalam sebuah kelompok atau komunitas mempermudah manusia mengenal jati diri dan memperkuat identitas dirinya di dalam masyarakat.

Seperti yang sudah penulis uraikan diatas, kecenderungan anggota komunitas untuk membentuk pribadi secara kolektif ditujukan untuk menguatkan kepercayaan dirinya. Ini sebuah upaya defence mechanism dari anggota komunitas tersebut. Pengaruh budaya luar dan perkembangan mode dunia mempengaruhi gaya para hijabers. Dalam zaman informasi, perkembangan media massa, media elektronik dan New Media, sangat mempengaruhi perkembangan komunitas ini. Bulan Ramadhan lalu, bisa menjadi potret bagaimana media benar-benar menaikkan pamor hijabers. Tren dihubungkan dengan kebutuhan religius umat Islam pada masa itu, jadilah kebutuhan massa diakomodir oleh media. Komunitas Hijabers begitu diekspos, mulai dari kegiatan mereka, cara memakai jilbab yang trendy, sampai dengan pola pemasaran jilbab yang lagi trend dibahas  dengan begitu menarik. Kehendak media dalam mengkontruksi masyarakat memicu lahirnya tren berjilbab yang stylish. Dampaknya bisa dilihat dari menjamurnya model-model jilbab baru. Para wanita muslim turun ke etalase toko-toko untuk mencari jilbab tersebut. Bulan Ramadhan nampaknya bisa dimanfaatkan untuk strategi bisnis. Media massa memiliki peranan besar dalam perkembangan komunitas ini serta npenyebaran nilai-nilai yang dibawanya. Sisi negatifnya, Budaya konsumeristik pun tak bisa dihindari.

Berbicara tinjauan sosiologis terhadap komunitas Hijabers tak lepas dari gaya hidup dan identitas mereka di tengah masyarakat. Hasil penelitian Rima Hidayati (2012) tentang komunitas Hijabers di kota Makassar menunjukan bahwa Hijabers Moslem Makassar (HMM) mempunyai gaya hidup tersendiri ; cara berpakaian, penggunaan bahasa, tempat nongkrong, dan kegiatan komunitas

  1. a.    Gaya berbusana yang stylish dan fashionable

Mereka memiliki gaya berbusana yang berbeda dengan gaya berpakaian muslimah pada umumnya. Anggota komunitas hijabers selalu menampilkan gaya  berjilbab kontemporer yang jauh dari kesan kolot, dan tidak keren. Mereka menampilkan diri mereka sebagai seorang muslimah yang berhijab atau berjilbab namun stylish dan fashionable.

  1. b.    Penggunaan Bahasa yang unik

Komunitas Hijabers menggunakan bahasa yang unik dalam berinteraksi. Penggunaan bahasa gaul dikombinasikan dengan teks Arab dan Inggris dalam komunitas Hijabers khususnya Hijabers Moeslem Makassar menjadikan ini sebagai bagian kehidupan mereka ketika berinteraksi.

  1. c.         Tempat nongkrong kelas menengah ke atas

Komunitas Hijabers menampilkan gaya hidup kelas menegah keatas yang ditandai dengan budaya nongkrong di tempat-tempat yang dianggap  “prestise” ataupun tempat yang dianggap sebagai representasi tempat gaul anak muda masa kini, seperti Pizza Hut, Mc Donalds, dan Eat&Out.

  1. d.        Kegiatan rutin untuk mempererat hubungan antar anggota

Komunitas Hijabers mengadakan kegiatan rutin seperti make-up class, fashion show jilbab, baazaar, pengajian, dll. Program besar seperti fashion show mendatangkan retail jilbab dari butik-butik ternama, Bazaar Hijab, Nonton Bareng dan Pengajian yang mensyaratkan pesertanya menyumbang sejumlah uang yang tidak sedikit.

Sebuah komunitas membutuhkan simbol. Simbol yang dapat diinterpretasikan dalam masyarakat sebagai identitas komunitas. Simbol dalam komunitas juga menyangkut masalah bahasa yang digunakan. Penggunaan bahasa gaul dikombinasikan dengan teks Arab dan Inggris dalam komunitas Hijabers khususnya Hijabers Moeslem makassar. Komunitas Hijabers ingin membangun kontruksi bahwa komunitas ini selalu mengikuti perkembangan zaman serta berbasis religiusitas.

Rima Hidayati (2012) menjelaskan gaya hidup adalah pola hidup seseorang di dunia yang diekspresikan dalam aktifitas, minat dan opininya. Gaya hidup juga menunjukkan bagaimana orang hidup, bagaimana membelanjakan uangnya, dan bagaimana mengalokasikan waktu dalam kehidupannya, juga dapat dilihat dari aktifitas sehari-harinya dan minat apa yang menjadi kebutuhan hidupnya.

Dr. Nur Syam (2005) dalam bukunya Bukan Dunia Berbeda, Sosiologi Komunikasi Islam mejelaskan bahwa gaya berpakaian islami pun telah memasuki paradoks globalisasi. Di satu sisi ingin seseorang ingin menampilkan gaya berpakaian Islam dengan jilbab sebagai tutup kepala, tetapi di sisi lain penonjolan ekspresi tubuh juga tetap kentara dalam hal ini keindahan oleh kasat mata. Jilbab modis yang kontemporer telah menjadi tren yang digemari kalangan perempuan hakikatnya menjadi contoh bekerjanya sistem global paradoks yang sangat menonjol.

Sosiolog Prancis Pierre Bourdieu (Gidden, 2005) melihat kelompok kelas dapat diidentifikasi menurut tingkat mereka bervariasi dari modal budaya dan ekonomi. Ia menilai bahwa individu atau kelompok saat ini tidak lagi membedakan diri menurut faktor ekonomi saja akan tetapi juga menurut selera budaya dan perburuan kesenangan. Menurut Giddens, hal ini ada kaitannya dengan faktor-faktor budaya seperti pola gaya hidup dan konsumsi. Identitas disusun untuk tingkat yang lebih besar sekitar pilihan gaya hidup seperti cara berpakaian, yang makan, cara merawat tubuh seseorang dan tempat untuk bersantai

Sebuah identitas hadir karena manusia butuh untuk mengkategorisasikan sesuatu. Dengan begitu, identitas sosial juga melibatkan pula ketegori dan menetapkan seseorang ke dalam struktur sosial atau wilayah sosial tertentu. Identitas lahir dari bentuk komunikasi yang komplit. Bahasa tubuh, gaya berpakaian, dan gaya hidup individu menjadi penentu lahirnya pelabelan atas suatu komunitas. Stratifikasi juga terlihat dimana gaya hidup dan pilihan-pilihan busana mencerminkan bahwa mereka berada dalam komunitas kelas atas.

Dengan adanya fenomena komunitas jilbab kontemporer, perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa persepsi dan pemakaian jilbab telah mengalami pergeseran (Shifting). Karena ada upaya untuk mengaktualkan identitas islam itu melalui berbagai tradisi  serta cara berpakaian, dan gaya hidup ini. Pergeseran ini terjadi karena komunitas jilbab kontemporer lebih menekan pada komersialisasi dan entertaining semata dengan melupakan sisi religiusitas sebuah hijab.

Berdasarkan uraian penulis diatas serta  ditunjang hasil penelitian Rima Hidayati (2012) dalam Komunitas Hijabers Makassar. Komunitas Hijabers menggambarkan identitas mereka yang ekslusif,  konsumtif dan komersial.

–          Identitas yang ekslusif, karena mereka memiliki  image tersendiri serta berupaya membentuk keunikan mereka dengan gaya hidup, penggunaan bahasa, tempat pilihan serta kegiatan rutin tertentu.

–          Identiitas konsumtif, karena kebiasaan pilihan-pilihan tempat berkumpul serta bersantai mereka adalah tempat untuk kalangan menengah keatas yang arti tempat dimana segala barang atau makanan yang dijajakan tidaklah murah.

–          Identitas komersial, dikarenakan program-program komunitas ini dianggap mengesampingkan sisi religiutas agama dengan menggelar event bergengsi fashion show untuk wanita berjilbab. Kegiatan show off  bukanlah dilandasi nilai religius. Secara ekonomi, untuk menjadi anggota yang aktif dan mengikuti program komunitas Hijabers tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

  1. C.    Postmodernism

Postmodernism lahir karena konteks modernism sudah tak lagi dipandang tepat. Apabila Modernism dijelaskan sebagai karakter masyarakat barat dengan sebagai dampak dari adanya revolusi Industri sementara postmodernism adalah era pasca revolusi Industri. Masyarakat postmodern pun dapat disebut sebagai post-industrial society.

Urbanisasi, stratifikasi kelas sosial, ideology, berkembangnya konsep negara-bangsa, serta sistem birokrasi merupakan ciri dari era modern. Perkembangan ilmu sosiologi sebagai disiplin akademik dengan teori-teori perubahan sosial seperti positivism, functionalism, marxism, dan interactionism merupakan karakteristik zaman modern. Modernitas melihat dan menjelaskan masyarakat, perilaku manusia, politik dan sesksualitas sebagai grand narratives atau master narratives sementara para postmodernist menolak hal tersebut. Mereka melakukan dekontruksi terhadap grand narratives, apa yang dibentuk dan dikontruksikan masyarakat.

Postmodernist seperti, Lyotard dan Baudrilard menjelaskan bahwa masyarakat berubah sejak zaman modern. Perubahan ini disebabkan oleh

  1. Globalisasi yang mereduksi kekuatan nation-state
  2. Economic Changes, perubahan ekonomi yang memfragentasikan kelas sosial dan menyebarkan secara luas nilai-nilainya
  3. Relativism, cara pandang dunia yang menolak kebenaran objektif. Kebenaran dapat diciptakan dan tidaklah mutlak
  4. The rise in importance of Identity, daripada mengidentifikasikan kelas sosial para kalangan postmodernist menyarankan manusia untuk mengontruksi identitasnya sendiri seperti konsumen dalam pasar. Memilih identitas dan mengombinasikan sesuai dengan keinginannya sendiri. Sehingga identitas begitu penting. Identity therefore becomes crucial to a person’s politics, sexuality, adopted family structure etc.
  5. Postmodern society is therefore characterised by diversity and choice. keberagaman menuntut adanya toleransi antar sesama dan semuanya didasarkan atas pilihannya masing-masing.
Modernism Postmodernism
Master narrative of progress through science and technology. Skepticism of progress, anti-technology reactions, neo-Luddism; new age religions
Sense of unified, centered self; “individualism,” unified identity. Sense of fragmentation and
decentered self; multiple,
conflicting identities.
Idea of “the family” as central unit of social order: model of the middle-class, nuclear family. Alternative family units, alternatives to middle-class marriage model, multiple identities for couplings and childraising.
Hierarchy, order, centralized control. Subverted order, loss of centralized control, fragmentation.

Trust and investment in micro-Faith and personal investment in big politics (Nation-State, party). Trust and investment in micro-politics, identity politics, local politics, institutional power struggles.Faith in the “real” beyond media and representations; authenticity of “originals” Hyper-reality, image saturation, simulacra seem more powerful than the “real”; images and texts with no prior “original”. “As seen on “TV” and “as seen on MTV” are more powerful than unmediated experience.

 

Dominic Strinati (2011:336-342) menjelaskan bahwa Postmodernism memiliki beberapa ciri :

  1. 1.      Kebuntuan Pemilahan antara Budaya dan Masyarakat

Postmodernism menguraikan lahirnya suatu tatanan sosial tempat arti penting maupun kekuatan media massa dan budaya populer yang berarti kesemuanya mengatur dan membentuk segala macam hubungan sosial. Media massa semakin banyak mendominasi rasa realitas kita

  1. 2.      Penekanan pada daya dengan mengorbankan pada substansi

Dalam dunia postmo tampilan permukaan gaya menjadi lebih penting. Harvey (1989 : 347-348), menyatakan bahwa citraan mendominasi narasi. Keseringan mengkonsumsi citra atau tanda mengakibatkan kita mengabaikan nilai-nilai dan kegunaan.

  1. 3.      Kebuntuan pemilahan antara seni dan budaya populer

Seni menjadi semakin terintegrasi dengan ekonomi. Keduanya mendorong orang mengonsumsi melalui peranan besar yang dimainkannya dalam iklan. Seni telah menjadi barang komersil.

  1. 4.      Kekacauan ruang dan waktu

Terjadi kegamangan dalam pemahaman konteks ruang dan waktu. Proses globalisasi informasi dengan dominasi media menumbangkan, mendistorsikan ruang dan waktu sehingga gagasan tidak lagi koheren atau tunggal. Arus modal, uang, informasi, dan kebudayaan yang cepat menganggu kesatuan linear waktu maupun jarak ruang geografis yang sudah ditetapkan. Harvey (1989: bagian 3) menjelaskan perkembangan komunikasi modern menyebabkan orang maupun informasi bisa berpindah, ruang dan waktu menjadi makin kurang stabil dan kurang dipahami, semakin membingungkan dan tidak koheren

  1. 5.      Kejatuhan metanarasi

Hilangnya pemahaman sejarah sebagai sebuah narasi yang linear dan berkesinambungan, sebuah rangkaian peristiwa yang jelas, mengindikasikan dunia postmo dimana metanarasi telah ditumbangkan. Semisal semakin berkurang arti penting agama sebagi sebuah metanarasi masyarakat. konsekuensi  postmodernisme adalah tidak ada pengetahuan mutlak.

Penulis menguraikan definisi dan beberapa teori serta perbandingan antara modernism dan postmodernism agar dapat membentuk arah fikir pembaca sehingga konteks penulis dalam bahasan tinjauan masyarakat postmodern dengan fenomena komunitas Hijabers dipahami.

  1. D.    Spiritualitas Postmodern

Perubahan sosial yang terjadi pada masyarakat modern menuju postmodern memiliki konsekuensi-konsekuensi. Perubahan ini menyangkut pola perilaku, cara pandang, ideologi, serta interaksi dalam bermasyarakat.

Masyarakat postmodern merupakan masyarakat yang terlahir pasca modernisasi, masyarakat post-industrial society. Masyarakat yang tidak lagi mencintai reasoning, masyarakat yang meyakini kebenaran itu tidaklah mutlak namun kebenaran dapat diciptakan secara personal dan relatif, masyarakat yang skeptis, masyarakat yang melahirkan spiritualitas baru, masyarakat yang unik karena erat kaitannya dengan media massa dan perkembangan komunikasi massa modern.

Penulis akan menfokuskan bahasan ini dengan menguraikan dampak masyarakat postmodern dengan model spiritulitasnya. Hal ini akan erat kaitannya dalam membahas mengapa komunitas jilbab kontemporer atau hijabers dapat dikategorikan sebagai produk budaya postmodernisme? spiritualitas yang bergeser telah menunjang perkembangan komunitas seperti itu dalam konteks bahwa anggota komunitas hijabers dapat dikategorikan sebagai masyarakat postmodern dengan spiritualitasnya.

Masyarakat postmodern memiliki asumsi bahwa tidak ada objective truth atau kebenaran yang objektif. Nilai-nilai moral adalah relatif. Realitas sosial pun dibentuk oleh kumpulan komunitas yang berbeda-beda. Keyakinan ini secara sadar membuang agama. Konsep teologi atau ketuhanan kaum postmodernist sangat berbeda dengan kaum ortodhox dan modernis.

Masyarakat postmodern bisa dianggap telah melahirkan konsep agama baru. Agama yang tidak lagi membicarakan ke ‘ada’ an dan ke ‘tidak’ adaan. Agama yang tidak lagi suka membicarakan mengenai surga dan neraka. Lahirlah konsep agama baru ala postmodern. Orang-orang postmodern tidak menyukai agama yang bersifat dogmatis dan menakutkan. Mereka memilih agama sesuai dengan kehendak pilihan mereka.

Walter Truett Anderson (1990:7-9) dalam “Reality isn’t what is used to be : theatrical politics, ready-to-wear-religion, global, myths, primitie chic, other wonders of postmoderns world” menjelaskan bahwa “Agama pada saat ini tidak dilihat sebagai satu paket keyakinan tentang apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Melainkan agama hanya dilihat sebagai suatu preferensi, sebuah pilihan”

Terjadi perbedaan yang menyeluruh tentang cara berfikir tentang agama yaitu yang tidak lagi berbicara kebenaran suatu keyakinan namun lebih pada apa yang diinginkan atau dikehendaki seseorang. Contohny agama scientology.

Bagi postmodernist, moralitas seperti agama adaah suatu masalah keinginan (desire). Apa yang saya inginkan dan apa yang saya pilih tidak hanya benar tetapi juga tepat bagi saya. Orang-orang yang berbeda akan memilih hal-hal yang berbeda pula. Kebenaran dan moralitas dalah relatif, saya memiliki hak atas apa yang saya lakukan, sebaliknya tidak seorang pun yang mempunyai hak untuk mengkritik apa yang saya inginkan dan saya pilih.

Postmodernist cenderung untuk menolak nilai-nilai tradisional. Mereka akan memperthankan hak mereka untuk melakukan apa yang mereka inginkan dengan semangat puritan. Mereka menganggap bahwa mereka memiliki hak untuk tidak dikritik oleh siapapun atas apa yang telah mereka lakukan. Yang mereka inginkan atas pilihan mereka tidak hanya lisensi tetapi juga persetujuan.

Konsekuensinya, toleransi menjadi suatu yang terpuji dan tertinggi. Dalam kerangka filsafat postmodern, setiap cara berfikir satu kelompok tertentu harus dipertimbangkan sebagai hal yang baik sebagaimana dengan kebudayaan lainnya.

Terminologi ‘dosa’ dalam kaum postmodernist adalah menghakimi, pemikiran yangs sempit, picik, menganggap bahwa hanya ia yang memiliki kebenaran, dan berusaha untuk memaksakan nilai-nilainya kepada orang lain. Bagi masyarakat postmodern satu-satunya ide yang salah adalah percaya pada kebenaran, sementara satu-satunya dosa adalah percaya adanya dosa. Moralitas postmodern memiliki ajaran yang menarik mengenai konsep tanggung jawab secara kolektif dan dosa bersalah kolektif. Kesalahan tidak dikenakan pada individu namun kepada kebudayaan yang membentuk indovidu tersebut.

Spiritualitas postmodern melahirkan agama-agama baru. Jika kaum modernis menghapus agama/kepercayaan, maka kaum postmodernis menelurkan kepercayaan baru. Spiritualitas postmodern melahirkan iman jenis baru. Kaum postmodernis merendahkan rasionalitas dan melenyapkan semua perbedaan untul pencerahan.

Di dalam dunia postmodern dan dunia konsumeristik seperti ini dimana kebenaran adalah relatif, maka orang-orang hanya akan mengambil aspek-aspek tertentu dari agama, sebagaimana yang mereka sukai. Dalam beragama mereka tidak lagi tertarik pada dasar-dasar agama, mereka mencari sendiri kebenaran dan tujuan hidup mereka .

Walaupun semua konsekuensinya jelas, manusia postmo akan tetap ngotot dengan etika keinginan nafsu mereka (the ethic of desire). Orang-orang postmodern menurut Yakub Tri Handoko (2009) berusaha mengisi kekosongan mereka dengan hal-hal yang semu dan tidak memuaskan mereka “manipulasi psikologis, motivasi emosional, dan meditasi panteistik

Spiritualitas postmodern, dijelaskan

Pertama, spiritualitas yang tidak memiliki dasar kebenaran mutlak. Akibat dari relativisme adalah penolakan terhadap suatu dasar kebenaran yang mutlak, termasuk dalam hal spiritualitas.  Dengan demikian, spiritualitas dalam era postmodern telah direduksi menjadi moralitas belaka.

Kedua, spiritualitas yang bersifat subjektif dan pragmatis. Konsekuensi tak terelakkan dari relativisme di bidang agama adalah munculnya rasa keagamaan yang lebih didominasi oleh perasaan seseorang.

Gene Edward Veith Jr dalam “Postmodern Times : A Christian Guides to Contemporary Thought and Culture (2009). Masyarakat postmodern tidak terlalu mempedulikan kebenaran dari suatu ajaran. Yang penting bagi mereka adalah ajaran tersebut mendatangkan perasaan nyaman dan kepuasan psikologis.

Dalam paparan penulis yang mengacu pada beberapa sumber yang juga menjelaskan terkait spiritulitas masyarakat postrmodern dapat disimpulkan bahwa. Masyarakat postmodern mencari sendiri kebenaran mereka dan mendasari pilihan mereka atas dasar (the ethic of desire) dan mereka beragama atas dasar sebuah pilihan mana ajaran yang mendatangkan perasaan nyaman dan kepuasan psikologis.

“Today religion is not seen as a set of beliefs about what is real and what is not. Rather, religion is seen as a preference, a choice. We believe in what we like. We believe what we want to believe.”

Hal ini kemudian menurut penulis menjadi dasar mengapa mudah sekali terjadi pergeseran nilai dan pemaknaan religiusitas dalam Hijab. Dalam perkembangannya, komunitas Hijabers banyak berkembang di wilayah kota besar yang metropolis dan  telah dapat dikategorikan sebagai masyarakat postmodern dengan segala ciri dan pertanda yang sudah penulis paparkan. Sehingga penulis mangajukan tesis bahwa perkembangan komunitas Hijabers juga berkaitan erat secara psikokultural dengan perkembangan masyarakat yang mengarah pada masyarakat postmmodern dan spiritualitas postmodern ini yang menjadi dasar kuat apa yang mereka lakukan.

  1. E.       Postmodernism dan Budaya Populer

 

Dominic Strinati (2011:336-342), Postmodernism menguraikan lahirnya suatu tatanan sosial tempat arti penting maupun kekuatan media massa dan budaya populer yang berarti kesemuanya mengatur dan membentuk segala macam hubungan sosial. gagasannya adalah bahwa tanda-tanda budaya populer maupun citra media semakin banyak mendominasi rasa realitas kita, maupun bagaimana kita mendefinisikan diri kita dan dunia sekitar kita. Media mengontruksikan rasa kita akan realitas sosial, maupun rasa kita sebagai bagian dari ini. Gagasan ini memperlihatkan masyarakat yang dijenuhkan oleh media. Masyarakat telah dimasukkan dalam media massa. Dalam konteks postmodern lebih sulit memilah antara ekonomi dan budaya populer.

Signifikansi sosial budaya populer di zaman modern dapat dipetakan berdasarkan bagaimana budaya populer itu diidentifikaskan melalui gagasan budaya massa. Lahirnya media massa maupun semakin meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan telah menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan, sekaligus perdebatan. Suatu gaya hidup yang meluber lewat komunikasi massa ini melahirkan pola kehidupan yang demokratis, dalam arti suatu gaya hidup tidak menjadi privilese suatu kelompok dalam stratifikasi sosial. Dalam konteks kebudayaan massa atau biasa juga disebut kebudayaan populer, masyarakat menjadi homogen.

Raymond Williams (Takdir Ilahi, 2011 : 131-132)  mengusung empat definisi yang berbeda terkait kebudayaan populer :

  1. Disukai banyak orang’
  2. Jenis budaya yang sifatnya inferior
  3. Produk budaya yang sengaja dibuat untuk memuaskan selera banyak orang
  4. Budaya yang dihasilkan masyarakat untu keperluannya sendiri46.

Dalam konteks ini, terdapat kontradiksi dari kebudayaan populer. Di satu pihak ia dikatakan inferior, namun di pihak lain ia juga disukai banyak orang, karena sengaja dibuat  untuk memuaskan selera orang banyak (Takdir Ilahi, 2011 :132).

            Dalam hubungan era komunikasi massa modern serta kaitannya dengan budaya populer, atas kehendak media pula gaya hijabers ini menjadi gaya nasional masa kini yang kemudian fenomena ini disebut budaya popular untuk fashion style. Strinati (Bing Tedjo, 2007) mengemukakan bahwa budaya populer adalah budaya yang lahir atas kehendak media.Artinya, jika media mampu memproduksi sebuah bentuk budaya, maka publik akan menyerapnya dan menjadikannya sebagai sebuah bentuk kebudayaan.Populer yang dibicarakan disini tidak terlepas dari perilaku konsumsi dan determinasi media massa terhadap publik yang bertindak sebagai konsumen. Budaya popular inilah yang kini mampu menembus batas demografis Indonesia dan setiap detiknya memberikan gambaran budaya pop kepada khalayak ramai. Baik cetak maupun elektronik, budaya pop mengalir deras mempengaruhi masyarakat untuk ikut arus dalam setiap perubahannya. Budaya pop ini pun dengan cepat mengubah pola pikir masyarakat dengan bantuan media massa. Khusus untuk perempuan yang notabene sangat memperhatikan penampilan, hegemoni budaya pop benar-benar mensuguhkan banyak hal untuk menjadi lebih proaktif dalam berpakaian dan gaya hidup.

Sedikit mengingat, bahwasanya, budaya pop atau popular culture adalah budaya pertarungan makna dimana segala macam makna bertarung memperebutkan hati masyarakat. Budaya Pop seringkali diistilahkan sebagai budaya praktis, pragmatis, dan instan yang menjadi ciri khas dalam pola kehidupan (Bing Tedjo, 2007). Budaya pop untuk pakaian perempuan berjilbab yang dibawa oleh Hijabers dan digemborkan oleh media massa tentunya memberikan pergeseran makna akan bagaimana gaya busana muslimah atau perempuan berjilbab dahulu dan kini.

  1. F.     Postmodern dan Consumer Culture

Postmodernisme memiliki keterkaitan dengan gagasan-gagasan jangka panjang mengenai jangkauan mapun dampak konsumerisme dan penjenuhan media sebagai aspek utama perkembangan modern masyarakat industri kapitalis. Bergesernya kebutuhan ekonomi kapitalisme selama abad ke 20 dari mode of production ke mode of consumption. Dahulu kebutuhan utama masyarakat ekonomi kapitalis adalah untuk memantapkan kondisi produksi mereka. Mesin maupun pabrik yang menghasilkan barang-barang harus dibuat dan terus-menerus diperbarui. Industri- Industri berat mupun energi harus diciptakan. Infrasturuktur sebuah perekonomian kapitalis (jalan, rel, kereta api, komunikasi, pendidikan, sebuah welfare state) harus dibentangkan (Strinati , 2010 : 353), etika kerja harus diajari, disiplin yang dipersyaratkan pekerja industri. Semuanya mengacu pada tujuan kebutuhan produksi.

Namun dahulu dimana kebutuhan akan produksi kapitalis merupakan sistem yang diwajibkan, kebutuhan akan konsumsi mulai muncul. Orang perlu memperoleh etika kesenangan atau mengkonsumsi hal lain selain etika kerja. Secara sederhana dapat dikatakan masa post-industrial kemunculan kebutuhan konsumsi dengan perkembangan yang mutakhir dalam sejarah kapitalisme tentu perlu dipecahkan (Strinati, 2010:353)

Semakin meningkatnya kemakmuran dan waktu senggang, menekankan perlunya kebutuhan akan konsumsi. Maka dari itu, pertumbuhan kredit konsumen, ekspansi agen-agen seperti iklan, pemasaran, desain, kehumasan, mendorong orang untuk mengonsumsi serta lahirnya budaya populer modern yang memuja konsumerisme, hedonisme, dan gaya (Strinati, 2010 : 354).

Dalam konsep ini, peran komunikasi massa modern semakin penting. Yang dapat disimpulkan disini adalah bahwa media massa telah menjadi hal utama bagi arus komunikasi dan informasi di dalam maupun diantara masyarakat-masyarkat modern,  sebagai akibatnya  budaya  populer yang mereka siarkan dan promosikan semakin banyak menerangkan dan memperantai kehidupan sehari-hari di dalam masyarakat. Mereka bersama-sama dengan konsumerisme, secara bersama-sama telah memunculkan ciri-ciri khas postmodernisme (Strinati, 2009: 354). Dunia akan semakin banyak dijejali budaya populer dengan citraan, ikon dan myth nya.

Berdasarkan apa yang telah penulis paparkan tentang pergeseran esensi dalam berhijab, kemudian, bagaimana tinjuan  sosilogis komunitas hijabers baik gaya hidup dan identitasnya ditengah masyarakat serta spritualitas postmodern yang menjadi kekuatan personal dalam perkembangan fenomena komunitas Hijabers, penulis semakin yakin dalam konteks interdisiplin ilmu framework kajian budaya, konteks perubahan sosial, infomation age, hubungan industri budaya kapitalis, budaya populer, konsumerime dan masyarakat postmodernisme secara bersama-sama saling menguatkan satu sama lain kelanggengan perkembangan fenomena komunitas Hijabers. Dengan adanya media massa, sosial media, serta ikon tokoh hijabers seperti Dian Pelangi dkk serta myth seorang wanita muslim yang tetap menutup aurat namun stylish dan fashionable saling menguatkan satu sama lain. Pergeseran nilai religiusitas, pertarungan makna, serta budaya konsumtif menjadi konsekuensi hal ini.

BAB III

PENUTUP

  1. A.  Kesimpulan

Penulis melihat pergeseran nilai pemakaian jilbab masa kini telah bergeser dari sebuah manifestasi perilaku menjalankan tuntunan agama menuju mode atau fashion. Dalam kaitannya dengan budaya populer dan industri budaya, penulis menilai terjadi sebuah pergeseran (shifting) dalam pemberlakuan nilai-nilai agama Islam masa kini terutama dalam perkembangan komunitas Hijabers.

Melihat fenomena komunitas jilbab kontemporer, perlu dijelaskan kepada masyarakat bahwa persepsi dan pemakaian jilbab telah mengalami pergeseran (Shifting). Karena ada upaya untuk mengaktualkan identitas islam itu melalui berbagai  tradisi seperti cara berpakaian, penggunaan bahasa dan gaya hidup. Pergeseran ini terjadi karena komunitas jilbab kontemporer lebih menekan pada komersialisasi dan entertaining semata dengan melupakan sisi religiusitas sebuah hijab.

Postmodernisme menguraikan lahirnya suatu tatanan sosial baru dimana kekuatan media massa dan budaya populer kesemuanya mengatur dan membentuk segala macam hubungan sosial. Media mengontruksikan rasa kita akan realitas sosial, maupun rasa kita sebagai bagian dari ini. Lahirnya media massa modern seiring semakin meningkatnya komersialisasi budaya dan hiburan telah menimbulkan berbagai permasalahan, kepentingan, sekaligus perdebatan.

Dalam hubungan era komunikasi massa modern serta kaitannya dengan budaya populer, atas kehendak media pula gaya hijabers ini menjadi gaya nasional masa kini yang kemudian fenomena ini disebut budaya popular untuk fashion. Budaya pop untuk pakaian perempuan berjilbab yang dibawa oleh Hijabers dan digemborkan oleh media massa tentunya memberikan pergeseran makna akan bagaimana gaya busana muslimah atau perempuan berjilbab dahulu dan kini.

Masyarakat postmodern mencari sendiri kebenaran mereka dan mendasari pilihan mereka atas dasar (the ethic of desire) dan mereka beragama atas dasar sebuah pilihan mana ajaran yang mendatangkan perasaan nyaman dan kepuasan psikologis.

Hal ini kemudian menurut penulis menjadi dasar mengapa mudah sekali terjadi pergeseran nilai dan pemaknaan religiusitas dalam Hijab. Dalam perkembangannya, komunitas Hijabers banyak berkembang di wilayah kota besar yang metropolis dan  telah dapat dikategorikan sebagai masyarakat postmodern dengan segala ciri dan pertanda yang sudah penulis paparkan. Sehingga penulis mangajukan tesis bahwa perkembangan komunitas Hijabers juga berkaitan erat secara psikokultural dengan perkembangan masyarakat yang mengarah pada masyarakat postmmodern dan spiritualitas postmodern ini yang menjadi dasar kuat apa yang mereka lakukan.

Pergeseran esensi dalam berhijab, kemudian, bagaimana tinjuan  sosiologis komunitas hijabers dari gaya hidup dan identitasnya ditengah masyarakat serta peran spritualitas postmodern yang menjadi kekuatan personal dalam perkembangan fenomena komunitas Hijabers, penulis semakin yakin dalam konteks interdisiplin ilmu framework kajian budaya, konteks perubahan sosial, infomation age, hubungan industri budaya kapitalis, budaya populer, konsumerime dan masyarakat postmodernisme secara bersama-sama saling menguatkan satu sama lain melanggengkan perkembangan fenomena komunitas Hijabers. Dengan adanya media massa, sosial media, serta ikon tokoh hijabers seperti Dian Pelangi dkk serta myth seorang wanita muslim yang tetap menutup aurat namun stylish dan fashionable menjadi faktor yang saling menguatkan satu sama lain. Pergeseran nilai religiusitas, pertarungan makna, serta budaya konsumtif menjadi konsekuensi hal ini.

*Makalah ini dipresentasikan dalam Intermediate Training Nasional (LK II) HMI CABANG CIAMIS, 12 – 18 NOVEMBER 2012

 **Penulis adalah Anggota HMI Cab. Surakarta

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amri Razali, “Antropologi Pembangunan Indonesia”, Kencana Prenada Media Group, 2007

Anthony Giddens. Sociology. Oxford UK : Blackwell Publishing Ltd.. 2006

Asghar Ali Engineer. The Qur‟an Women and Modern Society Second Edition. New Delhi, India: New Dawn Press Group. 2005

Azyumardi Azra. Konteks Berteologi di Indonesia ; Pengalaman Islam. Jakarta : Paramadina. 1999

Bing Bedjo Tanudjaja .Pengaruh Media Komunikasi Massa terhadap Popular Culture dalam Kajian Budaya/Cultural Studies; Universitas Petra Surabaya. 2007

Dominic Strinati, Pengantar Menuju Teori Budaya Populer. Jogjakarta :Arruz Media. 2010.

Dr Nur Syam. Bukan Dunia Berbeda Sosiologi Komunitas Islam. Surabaya: Pustaka Eureka. 2005

Gene Edward Veith Jr. Postmodern Times : A Christian Guides to Contemporary Thought and Culture. Wheaton : Crossway Bokks.2009 (disadur oleh Ev. Gunung Masthon, S.Th

LifeStyle Ecstassy . “Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indoensia”. Editor : Idi Subandy. Jogjakarta : Jalasutra. 1997

Mg Sri Wiyarti. Sosiologi. Solo: LPP UNS dan UNS Press. 2008

Mohammad Takdir Ilahi, “Nasionalisme dalam Bingkai Pluralitas Bangsa; Paradigma Pembangunan dan Kemandirian Bangsa”, Arr Ruzz Media, 2012

Prof. Dr. Ravik Karsidi, MS.. Tentang Perubahan Sosial. http://ravikkarsidi.staff.uns.ac.id (diakses 1 november 2012)

 

Rima Hidayati. “Komunitas Jilbab Kontemporer Hijabers di Kota Makassar”. Skripsi Jurusan Sosiologi, Universitas Hasanuddin. 2012

Soerjono Soekamto. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers. 2006

The Fong in The Kettle : What Christian Need to Know About Life in the year 2000. Venture, CA : Regal Books. 1990

Sue McGregor. Postmodernism, Consumerism, and A Culture of Peace. Canada : Mount Saint Vincent University. 2003

 Walter Truett Anderson. “Reality isn’t what is used to be : theatrical politics, ready-to-wear-religion, global, myths, primitie chic, other wonders of postmoderns world”. San Fransisco : Harper & Row. 1990

Yakub Tri Handoko. Spiritualitas Reformed di Era Postmodern. Dalam Peringatan Hari Reformasi 2009 Institut Theologia Abdiel Indonesia (ITHASIA). 2009

Gambar

http://blog.zalora.co.id/10-produk-10-gaya-spesial-hijabers/

Iklan

2 pemikiran pada ““FENOMENA KOMUNITAS HIJABERS DALAM TINJAUAN MASYARAKAT POSTMODERN”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s