komentar tentang film Gie (2005)

“Pengantar Diskusi Film Gie : Catatan Seorang Demonstran”

Tori Nuariza Sutanto

Gambar

Film sebagai media komunikasi massa memiliki fungsi antara lain sebagai pembawa pesan, pembawa ideologi, representasi masyarakat , propaganda, dll. Tergantung apa yang kemudian menjadi dasar film tersebut apakah karya sastra, dinamika sosial politik, ideologi, rekontruksi peristiwa, dsb. Dalam proses mengkaji, membedah ataupun menganalisa sebuah film perlu diperhatikan teori dasar film mise en scene ; setting, costumes, decorations, lighting, make-up, cinematography, sound dll.  Selain dalam hal produksi, proses pemaknaan sebuah film merupakan hal yang menarik dan dapat pula dikaji dari berbagai sisi. 

 

Asvi Warman Adam menjelaskan bahwa pertama film dapat disebut sebagai sumber sejarah dimana tujuan film tersebut adalah menggambarkan kondisi realitas di masa itu serta berupaya membantu penikmat film dalam memahami kondisi dan konteksnya. Selain itu film juga berfungsi sebagai agen sejarah dalam konteks ini seperti film propaganda seperti digunakan oleh Nazi, serta Amerika dengan film bergenre perang dalam rangka menjustifikasi tindakan politik luar negerinya.

 

Film Gie : Catatan Seorang Demonstran garapan Riri Riza yang muncul tahun 2005 telah meraih kesuksesan dalam dunia perfilman Indonesia. Berbagai penghargaan atas film tersebut adalah  bukti pengakuan insan perfilman serta masyarakat penikmatnya, yakni Film bioskop terbaik, sutradara terbaik, pemeran putra terbaik dan berbagai nominasi lainnya dalam piala citra FFI 2005. Film ini diangkat dari catatan harian seorang bernama Soe Hok Gie, aktivis mahasiswa tahun 60-an, yang dikumpulkan dan menjadi sebuah buku  dengan judul “Catatan Seorang Demonstran”. Karya tersebut kemudian menjadi sumber bagaimana sutradara Film Riri Riza merepresentasikan karakter, pemikiran dan dinamika hidup seorang Soe Hok Gie.

 

Soe Hok Gie hidup dalam masa peralihan dimana terjadi pertarungan kepentingan yang besar di dalamnya. Pertarungan ini melibatkan golongan anti Soekarno, angkatan darat, PKI, dan juga Amerika Serikat yang sejak lama hendak berinvestasi di Indonesia. Artinya, sosok Gie di sini juga bukan merupakan aktor tunggal. Karakter dan pemikirannya terbentuk oleh lingkungan masyarakat sekitarnya dan juga sebaliknya interaksinya dengan berbagai kelompok termasuk angkatan bersenjata juga berpengaruh terhadap masyarakat sekitarnya

 

          Film Gie memiliki tingkat subjektifitas yang tinggi dalam memandang dinamika sosial-politik pada tahun 1959-1969. Selain karakter Gie yang dibangun dalam film ini sebagai seorang idealis, radikal, kritis dan juga humanis namun sebagai intelektual bebas, kehidupan Gie tak lepas dari kecemasan, dendam, kebencian, dan rasa takut yang kemudian ditumpahkan dalam catatan hariannya. Mari Berdiskusi !!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s