Mengenal Modern dan Postmodern

Gambarhttp://rolephant85.deviantart.com/art/modern-vs-postmodern-73686964

Manusia selalu mengalami perubahan-perubahan selama hidup baik secara individu maupun secara kolektif dalam konteks kehidupan bermasyarakat. Perubahan- perubahan (Soekanto, 2006:259) itu dapat berupa perubahan dalam hal nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku organisasi, susunan lembaga kemasyarakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dan wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya. Dalam hal ini, perubahan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat, yang mempengaruhi sistem sosialnya, termasuk nilai-nilai, sikap-sikap, pola-pola perilaku diantara kelompok masyarakat disebut sebagai perubahan sosial.

Daniel Bell (1999) membandingkan tentang 3 karakteristik era borjuasi dalam konteks produksi diantaranya pre-industrial society, industrial-society, dan post-industrial society. Era Post Industrial society ditandai pasca selesainya perang dunia ke II dan bergesernya mode of production dari  industri pabrik menuju pemrosesan informasi. Sementara Alvin Toffler menjelaskan 3 gelombang peradaban manusia antara lain era agrikultur, industri dan informasi. Perkembangan zaman yang begitu cepat dari masyarakat agrikultur menuju masyarakat industri hingga menjadi masyarakat informasi memang tak dapat dihindari, seiring dengan itu terjadi perubahan-perubahan sosial di dalam masyarakat. Dalam konteks ini, perubahan  masyarakat agraris, dimana sumber kekuasaan berupa tanah dan sumber daya alam, menjadi masyarakat industri dimana  penguasaan terhadap alat-alat produksi  menjadi  alat kekuasaan dan pada akhirnya masa kini yang disebut sebagai era informasi. Terminologi seperti information revolution, globalization, postmodern society mulai menjadi wacana-wacana intelektual yang menarik pasca penemuan komputer dan  teknologi digital ini. Hubungan sosial ataupun interaksi di dalam masyarakat pun berubah total dari sebelumnya.

Modernitas  merupakan proses perubahan sosial yang diinisiasi dengan terlebih dahulu adanya proses industrialisasi. Selain itu,  ekspresi perlawanan terhadap nilai-nilai tradisional dan otoritas disebut pula modern. Contoh perlawanan tersebut diandai dengan lahirnya renaissance, reformasi protestantisme, scientific revolution (abad 16 dan 17), dan revolusi industri. Modernitas melahirkan masyarakat yang memiliki kepercayaan kuat pada science, humanity, progress dan voluntarism. Modernisasi mencakup proses yang sangat luas (Soekanto, 2006:303).  Kadang-kadang batasnya tidak dapat ditetapkan secara mutlak. Pada dasarnya pengertian modernisasi mencakup suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra modern dalam arti teknologi serta organisasi sosial ke arah pola-pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri negara-negara Barat yang stabil. Modernisasi merupakan suatu bentuk perubahan sosial. Biasanya perubahan sosial yang terarah (directed change) yang didasarkan pada perencanaan.

Urbanisasi, stratifikasi kelas sosial, ideology, berkembangnya konsep negara-bangsa, serta sistem birokrasi merupakan ciri dari era modern. Perkembangan ilmu sosiologi sebagai disiplin akademik dengan teori-teori perubahan sosial seperti positivism, functionalism, marxism, dan interactionism merupakan karakteristik zaman modern. Modernitas melihat dan menjelaskan masyarakat, perilaku manusia, politik dan sesksualitas sebagai grand narratives atau master narratives sementara para postmodernist menolak hal tersebut. Mereka melakukan dekontruksi terhadap grand narratives, apa yang dibentuk dan dikontruksikan masyarakat.

Postmodernism lahir karena konteks modernism sudah tak lagi dipandang tepat. Apabila Modernism dijelaskan sebagai karakter masyarakat barat dengan sebagai dampak dari adanya revolusi Industri sementara postmodernism adalah era pasca revolusi Industri. Masyarakat postmodern pun dapat disebut sebagai post-industrial society. Masyarakat ini   bercirikan penuh dengan ketidakpastian, tanpa identitas yang jelas dan kuat. Masyarakat ini dapat disebut sebagai masyarakat postmodern, masyarakat yang terlahir pasca modernisasi, masyarakat post-industrial society. Masyarakat yang tidak lagi mencintai reasoning, masyarakat yang meyakini kebenaran itu tidaklah mutlak namun kebenaran dapat diciptakan secara personal dan relatif, masyarakat yang skeptis, masyarakat yang melahirkan spiritualitas baru, masyarakat yang unik karena erat kaitannya dengan media.

Perkembangan masyarakat post-industrial, dengan dukungan teknologi dan revolusi informasi menjadikan hubungan antara manusia dan media menjadi kompleks. Media tidak lagi hanya mengungkap gagasan dan perasaan manusia, namun juga mengatur gagasan dan menata perasaan manusia. Media membentuk masyarakat, mengontruksi rasa dan persepsi masyarakat serta menetukan apa yang dikonsumsi masyarakat.

Masyarakat postmodern juga telah menggeser konsensus hubungan dan interaksi sosial dalam masyarakat. Dalam konteks ini dikaitkan dengan orientasi politik,  gerakan sosial di masyarakat modern berbasis atas kelas dan ideology, sementara terjadi new social movement ala masyarakat postmodern dimana gerakan mereka berbasis atas  keberagaman, identitas dan pilihan seperti gerakan feminisme, environmentalism, gay rights, animal rights, civil rights dll. Manusia postomodern lebih menyukai gerakan berbasis komunitas untuk memperjuangkan kepentingannya. Relativitas postmodern meyakini kebenaran dapat diciptakan dan tidak mutlak sehingga realitas sosial dibentuk oleh kumpulan komunitas yang berbeda-beda.  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s