“Menerapkan Nilai-Nilai Islam Di Lingkungan Universitas : Kehidupan Ilmu dan Teknologi”

 

“Menerapkan Nilai-Nilai  Islam Di Lingkungan Universitas : Kehidupan Ilmu dan Teknologi”

Dr. Amien Rais

 

GambarAda beberapa hal yang perlu kita catat jika berbicara tentang penerapan nilai-nilai Islam di dalam kehidupan universitas. Pada dasarnya universitas di mana saja di dunia ini mempunyai posisi strategis yang sangat menentukan perjalanan hidup masing-masing  bangsa dan negara. Malahan kita dapat melihat kualitas suatu bangsa dan negara lewat universitas-universitas yang dimilikinya. Sebagai contoh, jika kehidupan universitas sudah tidak dapat lagi mencerminkan kehidupan yang demokratis, maka dapat dipastikan bahwa otoriterisme pasti sudah melanda di tengah-tengah masyarakat. Sebaliknya, jika kehidupan universitas dapat menegakkan kehidupan yang demokratis, dengan disertai nilai-nilai moral dan ethik yang luhur, maka dapat diharapkan bahwa kehidupan masyarakatnya juga akan secara perlahan mengikuti kehidupan demokratis universitas.

Disamping itu mudah dipahami pula, bahwa posisi strategis universitas terlihat dalam kenyataan, betapa para alumni universitas telah memegang posisi-posisi kunci dalam masyarakat. Baik di negara maju maupun di negara berkembang, produk universitas yang berwujud para alumni itu sesungguhnya berperan sangat besar dalam mengarahkan proses sosial, politik, ekonomi, dan kultur masyarakat, termasuk juga dalam proses pengembangan ilmu dan teknologi. Makalah ini hanya membatasi diri pada pembahasan bagaimana seharusnya mengarahkan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (Ip-tek) sesuai dengan nilai-nilai dasar Islam.

Literatur tentang perkembangan Ip-tek dewasa ini pada umunya ditandai dengan ambi valensi antara optimisme dan pesimisme. Jika kita melihat kehebatan dan manfaat penggunaan ip-tek bagi kesejahteraan ummat manusia, kita menjadi optimis. Sebaliknya, jika kita menyaksikan penyalahgunaan teknologi yang dapat berakibat fatal terhadap peradaban manusia, kita lantas menjadi pesimis. Teknologi memang dapat digunakan untuk kebaikan maupun untuk kejahatan. Tergantung pada bagaimana cara kita menerapkan teknologi tersebut.

Beberapa pemikir sudah banyak menyoroti tentang bahaya perkembangan teknologi yang lepas dari kendali dan mengingatkan , sebelum terlalu terlambat, manusia modern  perlu segera melakukan revisi dan reorientasi terhadap perkembangan teknologi yang demikian cepat.

Tokoh-tokoh seperti Lewis Mumford dengan “The Myth of the Machine”, Herbert Marcuse dengan “One Dimensional Man”, Kenneth Kenniston dengan “The uncommitted”, Hannah Arendt dengan “The Human Condition”, dan Jacques Ellul dengan “The Technological Society”, pada pokoknya telah mengingatkan jika manusia modern tidak mau bertindak cepat mengendalikan perkembangan teknologi yang makin melaju, manusia modern akan menghadapi alienasi, masyarakat yang atomistis dan akan kehilangan kepribadiannya serta menjadia budak dari “megatechnics

Berkat perkembangan ip-tek modern sekarang ini, dunia ita menjadi menciut karena tidak ada lagi jarak yang berarti dengan adanya transportasi dan komunikasi yang paling mutakhir. Secara demikian praktis seluruh ummat manusia di muka bumi ini menghadapi  masalah-masalah yang kurang birokrasi yang makin besar, misalnya antara lain pertumbuhan birokrasi yang makin besar, munculnya megalopolis, makin meratanya industrialisasi dan modernisasi, tempo perubahan sosial yang makin cepat, kemampuan destruksi massal yang mengerikan dengan persenjataan modern dan lain sebagainya.

Akan tetapi peringatan-peringatan yang dilontarkan oleh Mumford, Marcuce, Kenniston, Arendt, dan Ellul tentang bahaya teknologi yang dapat mengancam eksistensi manusia itu sendiri (ibarat senjata makan tuan) nampaknya malah diremehkan oleh beberapa ahli dan pemikir lainnya. Mumford dan pemikir-pemikir yang mirip dengannya justru dianggap sebagai kejangkitan  penyakit  technophobiacs, sebagai kaum nihilis sebagaimana dikemukakan dalam Technology Assesment Hearings di depan House of Representatives Amerika Serikat tahun 1969. Walaupun perdebatan mengenai dampak ip-tek dewasa ini cukup tajam di dunia maju, perdebatan itu sangat bergayutan untuk kita ketahui, oleh karena dunia kita semakin mengecil dan apa yang terjadi di dunia maju segera cepat merambat ke negara-negara berkembang.

Inti permasalahan teknologi di jaman kita sekarang adalah kenyataan bahwa teknologi telah lepas dari kontrol manusia yang menciptaknnya, atau mungkin lebih tepat, yang menemukannya. Sebagaimana dikatakan oleh Langdon Winner dalam buku yang dieditori oleh Albert Telch, Technology and Man’s Future, issue kontemporer teknologi kira-kira dapat digambarkan sebagai berikut : “that in some very significant ways our physical technologies and the social systems that support them have developed and continue to developed without adequate guidance by man’s rational , moral, and political agency.” Namun yang aga memprihatinkan atau mengkhawatirkan kita adalah kecenderungan kita sendirim, manusia modren, untuk memilih terbawa arus perkembangan teknologi yang telah lepas kendali itu.

Malahan Sarjana seperti Harvey Brooks melihat berbagai pemikiran yang menganjurkan agar kita berhati-hati mengemudikan jalannya pertumbuhan teknologi sebagai pemikiran-pemikiran yang sentimental dan irrasional dengan alasan, “man has no choice but push forward with his technological culture”. Pada hakikatnya justru pendapat Brooks inilah yang irrasonal. Dengan mengatakan bahwa manusia tidak mempunyai pilihan lain kecuali mendorong terus pertumbuhan teknologi dan bahwa dunia telah menyerahkan diri apad kultur teknologis, Brooks telah memandang enteng kemampuan manusia untuk merubah dan mengintervensi proses pertumbuhan teknologi, yang pada analisa terakhir  tokh tetap “man-made”. Dus, jika bersungguh-sungguh manusia dapat berbuat sesuatu untuk setidak-tidaknya meminimalisasi dampak negatif teknologi modern.

Dari kacamata Islam, bagaimanakah kita harus mengelola sains dan teknologi ??  secara sangat elementer kita dapat mengatakan bahwa ilmu pengetahuan (science) merupakan studi manusia yang berkaitan dengan observasi dan klasifikasi fakta-fakta dan terutama sekali dengan penemuan hukum-hukum yang berlaku ajeg  berdasarkan data yang valid. Sedangkan teknologi merupakan penerapan berbagai produk ilmu pengetahuan yang dimaksudkan mula-mula untuk kesejahteraan manusia. Dari pengertian ini kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya tergantung pada kita sendiri, mau kita bahwa kemana perkembangan ip-tek itu. Sudah barang tentu kita tidak menyetujui pendapat yang menyatakan bahwa ip-tek haruslah bersifat netral dan bebas nilai (value-free), Oleh karena itu dari kacamata Islam ip-tek justru harus mempunyai arah tertentu dan komitmen serta bersifat sarat-nilai (value-laden).

Kita secara demikian dalam mengembangkan berbagai disiplin ilmu sosial, eksakta, dan ilmu-ilmu teknik harus bertitik tolak di atas dasar pemikiran bahwa ip-tek yang dikembangkan adalah ip-tek yang sarat nilai dalam arti bahwa nilai-nilai Islam tidak mungkin dapat dipisahkan dari pengembangan ip-tek di masa sekarang maupun masa depan. Adapun nilai-nilai Islam dalam pengembangan ip-tek antara lain :

Pertama, berhubung Islam tidak mengenal kompartementalisasi bidang-bidang kehidupan manusia, maka pengembangan ip-tek merupakan bagian integral dari kehidupan Muslim secara utuh, terpadu berdasarkan tauhid

Kedua, seluruh dimensi kehidupan Muslim harus diabadikan kepada Allah semata

(surat Al-An’am ayat 162)

Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah karena Allah, Tuhan bagi sekalian Alam”

Sehingga penggunaan ip-tek tidak mungkin untuk tujuan-tujuan selain kesejahteraan ummat manusia. Islam melarang penggunaan ip-tek untuk kepentingan-kepentingan “inhuman” dari kekuatan-kekuatan kapitalisme, kolonialisme maupun sosialisme yang bersifat eksploitatif. Dengan kata lain, “intellectual slavery” tidak mempunyai tempat dalam paradigma Islam.

Ketiga, sesuai dengan fungsi Islam sebagai “rahmatan lil ‘alamien”, maka ip-tek harus dikelola sedemikian rupa sehingga tidak saja tidak merusak kehidupan manusia, tetapi juga tidak boleh merusak ekologi, fauna, flora di muka bumi ini.

Prinsip atau katakanlah ,nilai, yang ketiga ini sangat penting dalam pengelolaan ip-tek pada zaman modern ini, mengingat banyak tangan manusia modern yang telah merusak keseimbangan ekologis karena telah menyalahgunakan ip-tek untuk kepentingan-kepentingan yang picik. Bahkan kini muncul istilah yang cukup mengerikan, yaitu “ecocide” atau pembunuhan secara sengaja oleh manusia atas kelestarian lingkungan hidupnya baik di daratan, di sungai-sungai, di lautan dan di udara akibat asap mobil, kapal terbang, pabrik-pabrik dan barang-barang buangan dari berbagai industri dan ditambah dengan kecerobohan manusia dalam mengelola hasil-hasil ip-tek telah menyebabkan masa depan yang suram. Tidak mustahil suatu ketika di masa depan kita akan memiliki udara yang tidak mungkin kita hirup dan air yang terlalu kotor untuk kita minum. Terutama di negara-negara yang sudah memasuki masa pasca industrial, polusi telah merupakan suatu masalah kronis yang memberat dari tahun ke tahun.

Keempat, sebagai bagian dari kehidupan duniawiyah kita, ip-tek boleh dikembangkan terus (sebagaimana dikatakan Nabi Muhammad SAW, “Antum a’lamu biummuri dunyaakum”, namun  harus selalu disertai moral Islam sehingga ip-tek tidak akan pernah netral dan bebas-nilai.

Akhirnya Kelima, harus terdapat korelasi positif antara pengembangan ip-tek dan peningkatan taqwa Tuhan Allah SWT. Dengan kemampuan membuka sebagian tabir rahasia alam semesta dengan hukum-hukumnya yang demikian rapih, teratur dan sempurna, maka ip-tek itu berfungsi meningkatkan rasa taqwa para pengelolanya dalam rangka intensifikasi kebaktian dan pengabdian pada Allah. Secara demikian para ilmuwan muslim akan kedap terhadap arogansi intelektual yang sering menghinggapi cendekiawan-cendekiawan atheistis (Lihat surat Fushshilat, ayat 53)

“Kami akan tunjukkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan)  Kami di sekitar jagat dan di diri mereka , hingga ternyata bagi mereka, bahwasanya (Islam) itu benar.”

Berbagai universitas Islam di Indonesia dewasa ini telah mengembangkan berbagai disiplin ilmu dan Insyallah di masa depan akan dapat mengembangkan hampir setiap disiplin ip-tek. Bukan saja lewat perkuliahan-perkuliahan seperti sekarang, tetapi terutama lewat kegiatan-kegiatan penelitian dan pengembangan (research dan development). Hanya dari universitas dan lembaga-lembaga litbang sajalah dapat diharapkan penemuan-penemuan teknologi menengah yang sesungguhnya dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Bersama-sama berbagai universitas terkemuka di negara kita, Insya Allah kita akan dapat memberikan konstribusi substantif bagi pengembangan  ip-tek di Indonesia. Hal ini harus merupakan salah satu cita-cita kita, agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi peminjam, pemakai dan peniru di bidang ip-tek. Dewasa ini 97,5 % kegiatan litbang telah dimonopoli oleh Dunia I dan Dunia II, sisanya 2,5 % secara berserakan berada di Dunia III. Sudah barang tentu kenyataan ini secara perlahan tetapi pasti harus diakhiri.

Jurang ip-tek di atas tidak mungkin kita persempit jika kita yang berada di Dunia III hanya berpangku tangan sambil digenangi dengan pesimisme, fatalisme, dan defeatisme. Hukum sunnatullah mengajarkan bahwa proses sejarah adalah suatu proses dialektis dan dialektika tersebut akan menguntungkan siapa saja yang mau berpikir dan bekerja keras.***

 

  ***Makalah ini hasil rangkuman dari ceramah Dr. Amien Rais yang berjudul “Menerapkan Nilai-Nilai Islam di Lingkungan Universitas : Kehidupan Ilmu dan Teknologi”.

**Yang disampaikan pada seminar sehari tentang “Intelektual Muslim dan Kesadaran Beragama di Lingkungan Universitas pada tanggal 28 Mei 1985 di Aula Serba Guna  Universitas Islam Bandung (Unisba).

*Oleh : Kahar Muzakkir Hasba, mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi jurusan : Penerangan tingkat III Universitas Islam Bandung  

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s