Pilihan Sulit Indonesia : Poros Tiongkok ?, Poros Washington ?, Ataukah Jalan Ketiga?

Pilihan Sulit Indonesia : Poros Tiongkok ?, Poros Washington ?, Ataukah Jalan Ketiga?*

Gambar

Oleh : Tori Nuariza **

         ASEAN as a concert of Southeast Asian Nations, outward looking, living in peace, stability, and prosperity, bonded together in partnership in a just, democratic, and harmonious environment, dynamic development, and evercloser economic integration and in community of caring societies, conscious of its ties of history, aware of its shared culture heritage and bound by a common regional identity (Visi ASEAN 2020)

                Slogan ASEAN One Vision, One Identity, One Community, ibarat sihir bagi masyarakat awam yang seolah akan melepas dahaga akan hausnya kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan social. Besar, kemungkinan cita ASEAN Community 2015 dengan 3 pilarnya (Political-Security Community, Economic Community, Socio-cultural Community) agaknya terpengaruh oleh dua mimpi besar dunia European Dream dan American Dream. Lebih lanjut dua mimpi besar itu yakni, European Dream yang telah menyatukan 25 negara Eropa hingga terbentuklah European Union, ataukah sejarah tentang kisah 13 koloni Amerika yang bersatu melawan kolonialisasi Inggris hingga terbentuklah United States of America (USA) pada 1776. Bung Sulastomo, Mantan Ketum PB HMI 1963-1966, kemudian mencoba menawarkan The Indonesian Dream sebagai tanggapan atas tulisan Alfan Alfian Mimpi Pancasila yang tak pernah Terwujud (Kompas, 14/3/2006) dikutip dalam (Sulastomo, 2008 :3). Tampaknya Bung Sulatomo ingin menawarkan strategi Welfare State Indonesia dalam berselancar dalam hempasan samudera Globalisasi dan Ekonomi Pasar. Ditengah 3 mimpi di atas, kemudian disepakatilah ASEAN Charter yang ditandatangani oleh 10 Kepala Negara ASEAN yang merupakan dasar bagi terbentuknya ASEAN Community serta Visi ASEAN 2020, agar lebih mudah saya bahasakan ASEAN Dream dengan cita menyatukan dan menyeragamkan masyarakat Negara yang tergabung dalam ASEAN dalam suatu identitas, visi, dan komunitas, Mungkinkah ??

Seiring dengan Spirit Postmodernisme dalam mengkritik wacana-wacana modern yang dianggap gagal dan usang, fakta bahwa European Dream dianggap telah gagal karena sangat sulit percaya bahwa ketika Great Recession 2008 Inggris, Jerman, Perancis tidaklah banyak menolong Yunani, Portugal, dan Spanyol yang mengalami krisis ekonomi hingga membuat meledaknya angka pengangguran. Begitu pula, American Dream yang dalam dinamika sejarah Amerika Serikat tetap sulit memberikan persamaan hak dan kesempatan dalam masyarakat karena dominasi kelompok Kulit Putih (White Anglo Saxon-Protestant) tetap dominan, kelas kulit berwarna (African American, Hispanic, dll) tetap dianggap kelas kedua dalam realitas bermasyarakat. Lantas Bagaimana dengan Indonesian Dream ? bagaimana dengan posisi Pancasila dalam masyarakat kita ? masih relevankah kemudian kita untuk percaya kepada sihir ASEAN Dream tanpa siasat apapun?

Lanjutkan membaca “Pilihan Sulit Indonesia : Poros Tiongkok ?, Poros Washington ?, Ataukah Jalan Ketiga?”