“Catatan Tentang Media Massa dan Kondisi De-Demokratisasi Akhir Tahun Ini”

Catatan Tentang Media Massa dan Kondisi De-Demokratisasi Akhir Tahun Ini*

tv-media-octopus

Oleh Tori Nuariza **

Belum lama Republik ini baru saja menuntaskan hajatan besar Pemilihan Presiden 2014 yang tentu, menguras habis energi politik kita, sangat emosional bahkan dorongan psikologis politik telah menghadapkan anak-anak Bangsa dalam dua kubu berlawanan. Kontestasi PILPRES 2014 bagaimanapun telah usai, namun masih menyisakan suhu politik yang sewaktu-waktu dapat memanas kembali. Konon status quo ini masih akan terus berlanjut, melibatkan tidak hanya elite politik, akan tetapi simpatisan, relawan, intelektual partisan, dan elemen pendukung lain pun ikut turun tangan. Menariknya, pertempuran dua kubu semakin sengit dengan menggunakan senjata pengaruh media (baik cetak, elektronik, maupun digital), jaringan social media, jurnalisme warga, dan pengaruh propaganda, bahkan psy war. Disinilah posisi media massa, pers dan dunia jurnalisme pantas diuji kelayakannya dalam rangkaian kode etik, obyektifitas, dan independensi.

Teringat salah seorang kritikus media Ben.H. Baglikan dalam karyanya The Media Monopoly bahwa “The mass media become the authorithy at any given moment for what is true and what is false, what is reality and what is fantasy, what is important and what is trivial”. Sejalan dengan Ben, Noam Chomsky (2006:5) melihat bahwasanya “fakta di media massa hanyalah hasil rekonstruksi dan olahan para pekerja redaksi. Walaupun mereka telah bekerja dengan menerapkan teknik-teknik jurnalistik yang presisi, tetapi tetap saja kita tidak dapat mengatakan bahwa apa yang mereka tulis adalah fakta yang sebenarnya”. Sehingga informasi yang terdapat dalam media hanyalah sebuah rekonstruksi tertulis atas sebuah realitas yang ada dalam masyarakat, yang mana semua tergantung pada bagaimana orang dibalik media dalam melakukan kerja-kerjanya. Tak salah apabila, media massa telah bersinggungan dengan kehidupan politik, politik kuasa media dapat berubah haluan tergantung mau dibawa kemana arah politiknya, ingin membentuk opini model bagaimana, hingga membingkai realitas dan merekayasa opini sesuai dengan kepentingan siapa. Begitulah kira-kira masa PILPRES 2014 lalu, dimana media massa turut andil besar dalam melakukan keretakan sosial yang tajam dalam kehidupan emosional kita, serta membelah masyarakat kita menjadi kubu-kubu berlawanan. Media massa telah menjadi sebahagian Agama dan keyakinan partisan peminatnya, terutama televisi ujar Jalaludin Rakhmat, telah menjadi orangtua kedua bagi anak-anak, guru bagi penontonnya, penghibur bagi yang frustasi, dan pemimpin Spiritual yang telah melakukan conditioning opini pada pemikiran pengikutnya. Misalnya, mudah sekali kita lihat dalam kontestasi PILPRES 2014 lalu, dimana kelompok pendukung Prabowo memiliki TVOne, sedangkan Kelompok pendukung Jokowi memiliki Metro TV, bahkan kontestasi ini berlangsung dalam semua kanal media cetak, bagaimana Kompas Group, Tempo, jaringan JPNN, Jakarta Post, Globe, Times dan Media local melakukan vis a vis framing politik media yang berseberangan dengan jaringan SINDO, MNC News, dsb.

Haruslah diakui bahwa masyarakat memang membutuhkan pemberitaan pers yang didasarkan fakta, jujur, fair, dan berimbang. Supaya fakta tidak digantikan opini, realitas tidak digantikan oleh ilusi, dan supaya kebenaran tidak dimanipulasi. Namun di saat yang sama dibutuhkan pers yang kritis terhadap masyarakat dan pemerintah, sehingga pers dan masyarakat yang cerdas dan kritis harus berjalan berkelindan, tidak ada gunanya memiliki pers cerdas, tapi masyarakatnya bodoh, atau jika masyarakatnya kritis, tapi persnya tumpul. Dunia pers dan jurnalisme dituntut untuk tidak kehilangan daya kritisnya dan senantiasa berupaya mencerdaskan masyarakat. Kalau mengingat, kata kata Sejarawan Taufik Abdullah, “Pers bukanlah hanya pembawa berita, tetapi juga pelopor diskursus ke-cendekiaan”. Dengan bersandar pada misi dan orientasi sebagai pelopor kecendekiaan, tentunya pers akan mempersehat budaya politik, perilaku masyarakat, dan dunia pers itu sendiri.

Kondisi De-Demokratisasi (Pandangan Yasraf Amir Pilliang, 2014)

Menjelang dan selama masa Pemilu, bahkan sampai hari ini narasi “rakyat” ( misal : suara rakyat, Presiden pilihan rakyat, hak rakyat, atas nama rakyat, demi suara rakyat) menjadi topik bahasan utama media massa, selalu diberitakan, diwacanakan, dinarasikan sedemikian rupa dalam ruang ruang berita kanal politik. Komunikasi politik semua dengan narasi ‘rakyat, menandakan rakyat kini menjadi figure sentral dalam retorika politik. Pemilu yang sering dibahasakan sebagai momentum pesta demokrasi tak lagi merupakan masa pertarungan politik ‘demi kepentingan rakyat’, melainkan ‘demi suara rakyat’. Esensi demokrasi sebagai alat dan wadah perjuangan politik sebagai perjuangan idelogis atas perbaikan kondisi ummat, telah terciderai menjadi ajang berebut kursi kekuasaaan. Rakyat hanya menjadi konsumen dan penonton dari produk kapitalisme politik. Pesta Demokrasi kini tak lebih merupakan pesta merayakan kelimpahan materi, timbunan uang, kekuatan media, dan popularitas, iklan televisi, pencitraan media visual, arak-arakan karnaval, bahkan bagi-bagi uang, semata untuk mendapat suara rakyat. Kapitalisme politik inilah yang menciptakan kondisi de-demokratisasi, dimana proses pembangunan demokrasi telah menghancurkan pilar demokratis itu sendiri, ketika rakyat hanyalah konsumen dan penonton dari sebuah ruang etalase pasar politik dimana PILPRES adalah puncak pesta tersebut.

Kondisi De-demokratisasi adalah kondisi ketika ruang demokrasi dikendalikan kekuatan gabungan korporasi, parpol, dan kekuatan Negara, dimana yang memiliki peran sentral didalamnya, adalah para Bankir investasi, CEO Korporat, Broker, Taipan Media, branding consultant, event organization, dengan target utama mereka adalah akumulasi modal, untuk kemudian diinvestasikan di dalam pasar politik demi kekuasaan (Brown, 2010 dalam Yasraf A.Pilliang, 2014).

Ironis memang, ketika perjuangan politik direduksi menjadi ajang kompetisi pemasaran politik. Strategi pemasaran produk digunakan dalam memasarkan calon pemimpin, komunikasi politik yang diubah menjadi hanya strategi branding dan pertarungan calon pemimpin layaknya pertarungan brand, keberhasilan politik direduksi menjadi keberhasilan strategi media, pemasaran, dan branding. Pertarungan ideology sebagai esensi politik hanya diberi tempat sejauh ia bisa dikonversikan sebagai pertarungan branding politik. Kemenangan politik kini ditentukan kecanggihan Event Organizer Politik, bukan lagi oleh kapasitas intelektual, kecerdasan, dan kepemimpinan. Yang ‘politik’ (the political) hanya ada jika ada pertarungan hegemoni berbasis ideology (Moufe, 1993 dalam Yasraf A.Pilliang, 2014) yang lahir bukanlah pertarungan ideologi dan ideal-ideal politik, melainkan pertarungan kekuatan non-ideologis : materi dan pencitraan. Kondisi demikian menguntungkan dan menyuburkan tumbuhnya lapak lapak lembaga konsultan, survei, iklan politik, dan bisnis lain dengan komoditas politik. Kini, sulit membedakan antara pesta demokrasi dengan pentas Indonesian Idol, yang dibangun dan dilahirkan adalah para ‘idola politik’, yang popular karena mampu membangun diri sebagai media darling.

pasted_image

Semua Serba Industri!

Flashback menziariahi jejak sejarah pers kita, Ketika modal dan kuasa mengepung pers seperti yang berlangsung pada era 1990-an, perusahaan penerbitan pers menjadi lebih menyerupai ‘pedagang’ yang tanggap pada permintaan pasar, daripada menyerupai ‘politisi’ (Ibrahim, 2004:5). Media cetak di Indonesia pun mengalami peningkatan dalam hal spesialisasi dan segmentasi. Orang kemudian menyebut fenomena komersialiasi dalam kehidupan pers telah menjadikan pers sebagai industry atau pers industri. Dr. Daniel Dhakidae, menyebut era pers ini sebagai ‘kapital memproduksi jurnalisme’ yang pada gilirannya menjadi ‘jurnalisme penghasil kapital’. Kalau politisi mengendalikan pers melalui rekayasa hukum dan intimidasi, “pedagang” mengendalikan pers dengan memanfaatkan kepemilikan modal atau saham untuk mengontrol isi media atau mengancam wartawan yang ‘nakal’, anti- issue mainstream, dan kritis (Ibrahim, 2004:5). Dalam kepungan modal dan kuasa, pers tentu hidup dalam profesionalisme di lahan politik yang keras akan friksi dan pertarungan. Maka, tak heran di tengah transformasi pers menjadi industri media pers, mulai diterapkannya tuntutan akan produktifitas berita, deadline padat, dan profesionalisme atas nama perusahaan media. Jika pada zaman pergerakan nasional dunia pers berkembang menjadi ideologis yang bersifat menentang penindasan dan penjajahan hingga lahir intelektual jurnalis, sementara masa 50-60 an melahirkan jurnalis ideologis-partisan politik, kemudian masa kini industri media dan pers melahirkan para buruh perusahaan.

Lain lagi dengan industri media massa dalam cakupan lebih luas (surat kabar, tabloid, majalah, komik, buku, radio, televise, film, video, animasi, VCD/DVD, Internet dan berbagai corak lainnya) telah begitu mendominasi kehidupan masyarakat kita, bahkan mengepung dan berlomba mengisi waktu luang kita. Industri media ikut berperan penting dalam mengonstruksi kepribadian, hingga mempengaruhi gaya hidup, perilaku, dan budaya kita. Kebiasaan “ngerumpi” masyarakat kita berpindah mulai dari tumbuh dan langgengnya “industri gossip” di televisi, ruang chatting via internet, berbagai macam social media, hingga Booming BlackBerry Messanger, WhatsUp, dll. Begitu banyak citra, symbol, media, gambar, dan bunyi yang kita konsumsi melalui media massa tapi rasanya terlalu sedikit ruang dan waktu untuk merenungkan apa arti semua itu bagi kehidupan. Pesan-pesan komersial yang masuk dan menghunjam fikiran kita, seringkali tidak banyak memberikan makna bagi kehidupan. Mengutip Jean Baudrilard, “We are in a universe where there is more and more information, and less, and less meaning”, Kita kini sedang berada dalam semesta yang begitu melimpah informasi, tetapi begitu hampa makna. Dengan informasi yang melimpah, seakan-akan orang bisa menjadi serba tahu segala hal yang terjadi, tetapi sebenarnya mereka hanya mendapat pengetahuan yang dangkal dan terpenggal-penggal (Ibrahim, 2004:xxxii). Orang cenderung mengkonsumsi sebanyak-banyaknya informasi apapun bukan karena butuh namun karena terus menerus dicekokkan kepada mereka. C. John. Sommerville dalam How the News Makes Us Dumb (1999), menggambarkan bagaimana berita telah mengonstruksi sebuah “generasi instan”. Menurutnya, “generasi yang dibesarkan dengan berita tidak berarti menjadi generasi yang sehat. Sebab, jika ada sesuatu yang mereka dapatkan dari berita, adalah bahwa mereka dapat menjadi serba tahu tanpa harus bekerja keras”.

Mengutip Idi Subandy Ibrahim (2004) Mungkin benar, jika sejumlah kritikus budaya menggambarkan bahwa sekarang adalah era “the end of silence”, era akhir kesunyian, manakala hingar-bingar industri budaya massa berupa hiburan massa telah menyerap individu-individu menjadi massa yang anonim, individu yang kehilangan jati dirinya. Manusia massa cenderung memiliki kapasitas pengetahuan dan semangat yang cenderung mediocre, yakni sedang-sedang saja, biasa-biasa saja, atau pas-pasan (Ibrahim, 2004:xxxiv). Manusia massa cenderung mudah kehilangan kemampuan untuk berpikir secara mandiri, sehingga mudah disentuh emosinya oleh para perekayasa industri hiburan massa. Karena itulah, mereka mudah terombang ambing, bahkan mungkin dikelabui oleh siapapun untuk memanfaatkan sentiment dan emosi massa untuk kepentingan bisnis ataupun politik. Yang paling berbahaya apabila ideology berhasil bermain dibalik itu, maka tuntas sudah proses manipulasi kesadaran massa itu.

Media massa akhirnya, telah mendominasi kehidupan kita melalui pesan-pesan komersial yang setiap saat membujuk rayu dan menggoda serta memaksa kita tergiur dengan janji-janji hingga mimpi-mimpi dalam masyarakat komoditas. Mulai dari sabun mandi, pelembab kulit, kondom, obat kuat, paket wisata dan lembaga pendidikan. Dari ‘Industri Gossip’, hingga ‘Industri Nasihat’, ‘Industri Politik’, ‘Industri Pendidikan’ dan bahkan ‘Industri Syahwat’. Semua serba Industri!

mediagiantactionimage

*Disampaikan dalam Bincang JurnalistikMedia Massa dan Pergerakan Mahasiswa” diselengggarakan oleh LAPMI HMI Cab. Surakarta, 11 Oktober 2014

**Anggota HMI Cab.Surakarta Komisariat Muh.Iqbal

Sumber Bacaan :

Chomsky, Noam. 2006. “Politik Kuasa Media”. Yogyakarta : Pinus Book Publisher

Ibrahim, Idi Subandy. 2004. “Sirnanya Komunikasi Empatik : Krisi Budaya Komunikasi dalam Masyarakat Kontemporer”. Bandung : Pustaka Bani Quraisy.

Ibrahim, Idi Subandy (Editor). 1997. “Lifestyle Ectassy : Kebudayaan Pop dalam Masyarakat Komoditas Indonesia”. Yogyakarta : Jalasutra

Pilliang, Yasraf Amir. 2014. “Demi Suara Rakyat”, Opini Kompas edisi 28 April 2014”

Rakhmat, Jalaludin. 1997. “Generasi Muda di Tengah Arus Perkembangan Informasi” dalam “Lifestyle Ectassy”. Yogyakarta : Jalasutra

Iklan

One thought on ““Catatan Tentang Media Massa dan Kondisi De-Demokratisasi Akhir Tahun Ini”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s